Salah Jatuh Cinta?

Salah jatuh cinta?

 

Jadi begini, aku pernah berkisah mengenai pemuda yang akan kuberi dasi istimewa. Yang memenangkan hatiku untuk beberapa waktu yang lalu. Betapa aku tidak hanya jatuh rasa pada sosoknya,  namun juga begitu menaruh hati pula pada kerja kerasnya, semangatnya, dan beberapa kepribadiannya. Meskipun beberapa kali kuungkapkan ke-keselanku, itu tak sepenuhnya. Aku lebih banyak menyimpan rasa kagum terhadapnya.

Belakangan ini ku tahu, ada yang salah dari rasa ini. Sebab mungkin bukan saja waktu yang terlambat untuk membuat kami dekat, atau menyalahkan keadaan yang sudah terlampau lewat. Tapi karena memang ini bukan di waktu yang tepat saja. Aku menyadari bahwa dia yang kumaksud pun telah menaruh hati yang berbeda. Semua hal yang kubayangkan awalnya nampak begitu sulit kuterima. Tapi lambat laun, aku mulai mencerna itikad baik semesta mendatangkan kemungkinan ini. Apakah aku sedang di fase SALAH JATUH CINTA?

***

Patah hati

Itu fase yang kualami setelah sekian lama mencoba menjaga. Awalnya benar-benar tak kuterima dengan  baik segala problematika hati yang kurasa. Pikiran-pikiran buruk seperti “iya kan salahku juga gak bilang.” “Salahku juga terlalu cepat menyimpulkan.” “Salahku juga selalu berpikiran baik tentang masa-masa Bahagia.” “Salahku juga terlalu percaya jarak.” “Salahku juga terlalu percaya doa.” “Salahku juga hanya berpasrah pada SEMESTA.” Seburuk itu pikirku. Seburuk itu keadaanku. Sekacau itu rasaku.

Hingga dengan sendirinya, apa-apa yang kusalahkan justru mendekatkan kami. Apa-apa yang selama ini kuhardik justru menjadi kisah tersendiri. Dan Kembali kuresapi. “Iya aku masih 18 tahun, kenapa patah hati harus menjadi sesuatu yang membuatku sulit? Kenapa harus kubesar-besarkan?” Hingga benar-benar berusaha menjadi seseorang yang selalu ingin tumbuh lebih baik lagi, dan belajar banyak tentang pengalaman yang berarti ini.

Patah hati membuatku benar-benar sadar, bahwa sebenarnya aku sunguh-sungguh menjatuhkan perasaanku terhadapnya. Sebagai dua anak manusia yang punya banyak kekurangan, rasa ini mampu menutupi setiap salahnya dan menghiasnya menjadi sebuah penerimaan yang sempurna.

Waktu menjedaku, membuatku selalu tabah dan menerima hal-hal yang awalnya sulit menjadi sesuatu yang mudah kuikhlaskan, menjadi sesuatu yang mudah kuperbaiki, dan menjadi sesuatu yang mudah kukendalikan.

Fase patah hati anak usia 18 tahun ini berlalu begitu sederhana. Bukan genangan air mata yang membekas dan segenap luka tak terlihat, tapi lebih dari sikap dewasa yang akhirnya dapat kuterima dengan bijak.

Aku mencari banyak kegiatan yang sekiranya dapat mengalihkan pikiranku menjadi sesuatu yang menarik. Sesuatu yang bisa meredakan egoku untuk selalu diutamakan, untuk selalu divalidasi, untuk selalu diterima dengan baik. Bukankah penolakan akan membuat kita semakin meningkatkan kualitas kita? Begitu pikirku.

Patah hati hanya untuk orang-orang yang tidak percaya diri. Dan aku, kala itu benar-benar tak percaya diri. Mungkin saja dulu, aku selalu menganggap aku ini terlalu baik dan istimewa untuk menerima banyak penolakan dari orang-orang. Karena pencapaian demi pencapaian membuatku merasa selalu diagung-agungkan, merasa selalu tinggi, dan merasa selalu memiliki hati dimasing orang-orang yang mengenalku dengan baik. Tapi dengan penolakan ini, dengan patah hati ini, aku sadar, bahwa tidak baik terus menerus merasa tinggi hati. Terus menerus terlalu percaya diri. Terus menerus selalu nerasa baik. Dan membuatku cukup menjadi angkuh atas diriku sendiri. Jadi masa menjedaku karena patah hati membawaku pada dimensi karakter yang berbeda dan tentunya lebih menerima.

 

***

 

Menerima

Aku tahu sebesar-besarnya perasaanku, peran kesabaran sangat membantu proses ini. Akhirnya karena peran kesabaran aku mampu menerima dia dengan pandangan dan harapan lebih baik. Bagaimana soal perasaan? Sudahkah benar-benar melupakan? Tentu Ia sekarang lebih mudah dikendalikan. Aku tahu waktu-waktu yang tepat untuk mengungkapkan kekaguman, dan menempatkan diri di waktu-waktu yang harus menerima kenyataan bahwa aku ini si Juara Kedua.

Di proses menerima ini akhirnya aku sadar. Aku tidak benar-benar salah jatuh cinta. Aku tidak benar-benar salah menempatkan perasaanku terhadapnya. Aku hanya kurang berhati-hati mengambil sikap.

Menerima ini menjadi suatu proses paling bijaksana dalam mencintai. Bahkan setelah menerima aku sadar bahwa aku telah sedewasa ini melibatkan perasaanku. Dengan menerima hal-hal yang seharusnya sulit membuatku terus yakin bahwa “iyaa. Aku tau kalau kisahnya semua bakal lurus-lurus aja, justru gak akan se-seni ini.”

Karena proses menerima ini akhirnya aku sadar bahwa perasaanku terhadapnya makin bertambah, tanpa berharap sedikitpun. Ini urusanku dan hatiku tanpa perlu validasi darinya. Pengakuan saja sudah cukup, tanpa ingin mengintervensi pandangannya terhadapku. dan tanpa ingin meminta kejelasan atau kepastian sedikitpun.

Sikapku pun jadi seenaknya. Tidak perlu rasa canggung, rasa takut tersakiti atau menyakiti, saling mengekang, atau kewajban percaya dan lain sebagainya. Menjadi hubungan yang sangat sehat diantara kami, saling mendukung dan berbagi kekuatan. Lebih menyenangkan bukan?

Komitmen? Komitmen seperti apa yang bisa dipatuhi oleh anak usia 18 tahun? Bukannya meragukan. Tapi jangan terlalu dipegang. Jangan terlalu dipercaya. Dan jangan terlalu diharapkan. Perjalanan masih Panjang, kesempatan masih luas. Jangan jadikan komitmen justru sebagai pembatas yang mengekang. Toh komitmen yang sesungguhnya di realisasikan dengan bentuk dan kerja yang nyata. Bukan sebatas apa yang disampaikan lewat virtual maya.

Pemikiran penerimaan tersebut membuatku tenang. Tidak ada lagi yang perlu kucemaskan. Semuanya akan baik-baik saja jika memang aku tidak memasang ekspektasi-ekspektasi menyesakkan. Hal-hal kecil, sederhana dan manis yang kuterima selama ini cukup untuk tidak membuatku berharap banyak. Secukupnya saja.

***

Lelaki itu bernama Farizan

Terimakasih telah berhasil mengukir rekontruksi masa lalu

 

Iya tulisan ini untuk lelaki bernama Farizan. Saking istimewanya mari kita apresiasi disini. Bagaiamana keadaan mampu mempertemukan kami menjadi sepasang teman yang baik. Hingga masing-masing dari kami pun tak akan tau, kapan yang datang akan pergi, dan yang pergi akan Kembali lagi.

Hidup ini seakan tidak memberikan hak untuk bertanya kapan. Tak memberikan hak memaksa untuk selalu ingat. Dan akhirnya hanya tersisa warta-warta kekecewaan yang tak sampai-sampai karena lupa dan berbeda. Hingga jadilah sebuah rekontruksi masalalu.

Sejarah…

Sejarah ini berbeda. Sebab Farizan adalah sosok lain yang mendatangkan situasi yang tak sama dari kisah-kisah sebelumnya. Egoisnya juga cara mengalahnya seringkali datang tak terduga. Sikap tak ramahnya, tertutupnya, tinggi hatinya terkadang bisa berganti menjadi manis, mengalah dan sederhana. Mungkin ia tak pernah merasa, tapi bagiku, bagi seorang teman yang menaruh rasa terhadapnya, aku jatuh hati pada setiap kekurangannya sebagai manusia yang jauh dari kata sempurna. Dengan begitu, kami pun akan sama-sama belajar menerima.  

Akupun terkadang heran. Bagaimana caranya menegarkan hati? Bagaimana caranya menyimpan marah? Bagaimana caranya mengelola luka? Jarang Ia berbagi. Semuanya Ia simpan sendiri. seakan-akan itu hanya menjadi sebuah problem dilematis yang cukup dia yang menanggung, merasa dan terluka. Padahal bisa saja kami berbagi kekuatan jika ingin. Aku selalu penasaran bagaimana Ia dapat marah. Bagaimana Ia dapat spontan merasakan emosi yang besar. Tapi itu tak pernah ditunjukkan. Jika diibaratkan kisah dalam drama, Ia terlalu monolog tanpa ingin berbagi dialog. Dan dari sekian banyak hal tak biasa tersebut, aku jatuh hati pada kekurangan-kekurangan tersebut. Itu proses yang paling susah dalam sebuah hubungan pertemanan. Menerima kekurangan. Dan lebih hebatnya lagi, aku menerima kekurangannya tanpa paksaan. Menerimanya dengan apa adanya. Itu sebabnya pertemanan kami menjadi seru.

Yaa, aku sudah baik-baik saja. Dan akan selalu baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dilupakan. Semuanya sudah tersimpan dalam kenangan, dalam bilik suka maupun luka. Hal yang paling penting untuk menjaga ini terus baik-baik saja adalah dengan tidak berlarut-larut terlalu dalam. tidak mempermasalahkan hal-hal yang seharusnya mudah. Tidak perlu penjelasan yang Panjang, karena hal-hal baik akan selalu sederhana.

Semuanya pada akhirnya baik-baik saja. Jatuh cinta itu tidak pernah salah. Jarak, masalalu, kenangan, memberikan kesempatan untuk mengenal arti Kembali dan menjelaskan pada diri sendiri bahwa tidak ada alasan yang tepat untuk disesali.

Penjelasan yang terbaik tentang pertanyaan  “bagaimana menang berperang dengan kenangan?” jawabannya adalah :

Kibarkan bendera putih perdamaian,

Tidurkan segala rasa,

Jangan biarkan luka-luka membangunkan apa-apa yang dibiarkan tertidur

 

Terimakasih Riz, atas sepenggal kisah menarik di masa muda yang hebat. Kau tau, betapa menyenangkannya mengenalmu menjadi bagian dari lingkaran pertemananku. Maaf karena mungkin banyak ketidaknyamanan yang terjadi. Tapi sejauh ini, aku pun berjuang untuk tidak egois atas rasaku sendiri, jadi maklumilah kisah yang Panjang ini.

 


Komentar

Postingan Populer