NASEHAT AYAH TENTANG PENDIDIKAN
NASEHAT AYAH TENTANG
PENDIDIKAN
“Nanda, kamu harus ingat. Ayah
dulu pernah membawamu ke kebun binatang, waktu kamu menangis, merengek, meminta
keluar dari pondok sebab kau kelelahan. Sebenarnya itu ada makna filosofis
dibaliknya. Kamu dapat belajar dari para gajah-gajah, para burung-burung, para
harimau, para singa, dan lain sebagainya. Dan itu sejatinya adalah
nasihat-nasihat ayah tentang Pendidikan, yang menjadi bekalmu berkenalan,
melanglang buana.”
Setelah dewasa ini aku paham betul, bahwa ayah sangat
berhasil membuatku mengerti mengenai makna filososfi kebun binatang. Aku
belajar banyaknya kasih sayang di dalamnya. Aku melihat gajah besar dan gajah
kecil yang dirantai. Gajah besar rantainya kecil, dan justru gajah kecil
rantainya besar. Ternyata ada hal menarik dibaliknya, terdapat maksud yang tak
biasa. Bagi gajah kecil rantai yang besar benar-benar membuatnya tersiksa,
sangat tersiksa, Ia tak mudah bergerak dan beraktivitas tapi lambat laun
badannya membesar, dan rantai tersebut bukan lagi menjadi masalah yang berarti
baginya. Ia justru terbiasa dengan hal-hal yang membuatany sulit bergerak. Ia
melatih tubuhnya untuk dapat beraktivitas dengan lebih baik lagi. Bahkan dapat
bermain sirkus dan membawa kebahagiaan yang tak biasa. Ia sudah terbiasa dan
tak menjadi permasalahan yang besar.
Sejatinya seperti itulah hidup manusia. Bahkan gajah yang
kecil diibaratkan sebuah kesebaran. Dan rantainya adalah permasalahan. Semakin
kecil kesabaran kita semakin terasa berat permasalahannya. Namun coba kita
tabung kesabaran kita, sedikit demi sedikit. Dan apa yang terjadi? Kesabaran
kita akan semakin besar. Dengan besarnya kesabaran tersebut, setiap
permasalahan hanya sekedar hal yang ringan. Kita menjadi manusia-manusia yang
kuat, manusia-manusia yang hebat, dan selalu bertahan dengan berbagai macam
permasalahan yang datang.
Aku paham benar maksud ayah mengenai ini. Dan mencoba
mengingat-ingat dengan baik. Aku tak lagi menangis atau merengek di pesantren.
Aku menikmati hari-hariku dengan mencoba terus merasa baik-baik saja. Menabung
segala kesabaranku untuk bersikap menghadapi jerat yang lebih besar lagi. Dan
itulah sebabnya, Pendidikan yang kujalani selalu terasa menyenangkan.
Pesan ayah tentang pesantren dan Pendidikan membawaku pada
sebuah semangat besar untuk menyelesaikan perjalananku ditempat naung terbaik
ini. Terkadang sulit dan terbatas namun lagi-lagi mengingat segala macam
nasihat ayah dan makna filosofis kebun binatang membuatku kembali menghangat
dan mengembalikan segala semangatku untuk menjadi lebih baik lagi.
“Nan
ayahmu menyekolahkan kamu di pesantren karena ayah terlalu sayang padamu. Bagi
ayah Pendidikan itu no.1. Tapi setelah ayah pikir lagi yang mengantarkanmu
untuk sukses dunia dan akhirat adalah gabungan antara Pendidikan dan kejernihan
hati. Dan pesantren akan memberimu pelajaran yang merangkum semuanya.”
Setiap orang tua selalu ingin yang terbaik untuk
putra-putrinya. Diucapkan atau tidak, ditunjukkan atau tidak, namun cepat atau
lambat waktu yang akan membukanya. Bahwa setiap orang tua memiliki impian dan
banyak harapan kepada putra-putri yang akan melanjutkan perjuangannya di bumi
tuhan yang luas, tentunya dengan tanggung jawab yang besar dan penuh kehormatan
sebagai makhluk yang mulia. Oleh sebab itu, aku percaya setiap apa yang ayah
sampaikan atau setiap apa yang Ibu utarakan adalah jalanku untuk menuju hal-hal
kebaikan. Meskipun berat sekalipun.
“berat
memang di pesantren. Melihat intelektualitas kamu yang luar biasa memang merasa
sayang kalau tidak dilanjutkan kesekolah favorit. Tapi percaya deh sama ayah,
kalau kamu sudah sangat luarbiasa, dimanapun kamu berada, kamu akan tetap
istimewa. Senantiasa luarbiasa. Terus menggemakan hal-hal yang tidak biasa. Dan
akan selalu menjadi yang terbaik, bahkan dunia serta semesta mengakuinya.”
Pendidikan yang berasal dari sekolah favorit memang selalu
menggiurkan, dan aku memang sangat berkeinginan menjadi siswa populer dengan
segudang prestasi yang dimiliki dan ditunjang wajah yang senantiasa imut dan
menggemaskan ini. Tapi rupanya itu tak akan cukup untuk mengantarkan ayah dan
ibu pada keabadian yang menenangkan. Itu tidak cukup untuk memberikan bekal
yang sepada dengan pengorbanan yang telah dilakukan oleh keduanya. Dan
sebaik-baik cara membalas kebaikan mereka adalah dengan terus menjadi pribadi
yang berorientasi pada langit dan seisinya. Pendidikan yang akan membawaku
kearah tersebut adalah Pendidikan terbaik yang ayah dan ibu sampaikan ditambah
apa yang sekarang kuperoleh dari sebuah Lembaga bernama Pesantren.
Di pesantren, aku tak hanya menjadi santriwati populer, aku
juga menjadi seseorang yang belajar lebih bijaksana lagi, memiliki kerendahan
hati dan selalu mengingat kebaikan-kebaikan. Akupun tetap menjadi apa adanya
diriku, tanpa melanggar Batasan yang tidak diperbolehkan. Menjadi seseorang
yang berbeda dengan gagasan-gagasan hebatnya. Aku tumbuh dan berkembang di
tempat ini dengan sangat baik. Dan ayah telah berhasil menunjukkanku sebuah
tempat untuk menerapkan nasihat-nasihatany dengan sebaik-baiknya.
“Kamu
akan dihargai karena gagasanmu, kualitasmu dan kompetensimu. Bukan masalah kamu
lulusan sekolah favorit atau hukan. Lebih membanggakan lagi kamu dapat menjadi
berbeda dengan cara pandang orang lain. Kamu berasal dari pesantren dan kamu
mengguncangkan dunia. Suatu hal yang tidak banyak dipikirkan oleh orang lain,
tapi kamu melakukannya.”
Tetap saja menjalankan sesuatu yang berbeda dari yang lain
bukanlah hal yang mudah. Aku harus tahan dengan segala keterbatasan dan
kesulitan yang kuhadapi setiap paginya. Tapi dibalik itu justru kudapatkan
waktu-waktu untuk terus bermunajat dengan pasraha. Ku dapatkan
kesempatan-kesempatan terbaik untuk melakukan penjagaan pada hati yang lunak
dan mudah koyak ini. Ku dapatkan ketenangan dalam setiap bersimpun dan memohon
ampun pada yang kuasa.
”Menjadi
seorang penuntut ilmu bukanlah hal gampang, bukanlah hal mudah. Tidak sekedar
kita terus menimba ilmunya, menimbunnya tapi tidak menggunakannya. Jadikan
dirimu bermanfaat bagi sekitar.”
Setelah kamu menuntut ilmu maka kamu akan menjadi cerdas.
Dan setelah menjadi cerdas kamu berkewajiban untuk mencerdaskan sekitarmu. Dan
begitulah ilmu, layaknya sungai yang tak akan pernah mengering. Beruntunglah
kamu tak pernah memiliki kepayahan dalam menuntut ilmu.
”Jangan
pernah sedih karena terpenjara dibalik jeruji Pendidikan. Penjara suci sebuah
pesantren. Kau akan menemukan banyak makna hidup yang berbeda dan mendalam.
Kamu tentu kenal Mohammad Hatta, kamu tentu kenal Buya Hamka, dan kamu tentu
kenal banyak orang-orang hebat mereka terpenjara dalam kurungan ilmu yang
berguna. Semakin ‘terpenjara’ semakin hebat Ia berbagi dan bermanfaat bagi
sesama.”
“Ayah
hanya tak ingin kamu tidak berani meninggalkan rumah. Zaman sudah berbeda.
Sudah semakin maju. Carilah ilmu yang jauh dari rumah. Lihatlah dunia. Berkelilinglah.
Gerbang pesantren akan menunjukkan jalannya. Percayalah.”
Dan aku
membuktikannya. Pesantren tidak hanya mengantarkan ku kepada tempat-tempat yang
jauh, ilmu yang luas akan tetapi juga hati yang tidak pernah sempit, pemikiran
yang dangkal dan kesempatan-kesempatan hebat lainnya. Aku membuktikannya, aku
tidak hanya kaya pengalaman tetapi aku tetap terjaga dengan segudang
perilaku-perilaku mulia yang dibiasakan ditempat ini dalam kesehariannya.
Dan aku pun siap kembali. Siap menebarkan apa yang
dibutuhkan pada sekitar…
Kembali menjadi seorang Nanda yang lebih baik lagi
kedepannya.
“kembalilah
kerumah sebagai orang terdidik, orang berakhlak, orang berguna, orang
berkecukupan, dan orang yang menabungkan rumah bagi ayah dan ibumu serta
keluarga di surga.”
Pendidikan dan nasehat-nasehat ayah sungguh sebuah
perbandingan yang membentuk kombinasi tepat. Pesantren dan kisah saya
didalamnya menjadi sebuah sejarah berharga. Mimpi dan tujuan yang saya rancang
adalah masa depan yang akan saya wujudkan sepenuh jiwa.
Saya resapi setiap nasehat Ayah, bagi saya semakin dalam
akan semakin dewasa. Entah menurut orang lain seperti apa, tapi bagi saya
pribadi yang mencoba mengalahkan ketidak mungkinan bagi diri saya sendiri
adalah hal yang sangat mendewasa untuk saya coba dan saya lakukan.
Entah apa kata yang lain, tapi bagi saya Pendidikan ayah dan
keberhasilan saya di pesantren untuk mengguncang dunia adalah sebuah
opportunies sekaligus pembuktian yang pantas untuk mendapatkan sejarah dan
akhir cerita yang indah.
Komentar
Posting Komentar