NASEHAT AYAH TENTANG "HATI"
Nasehat Ayah tentang
“Hati”
Sebagai seorang Ayah yang membesarkan hati anak-anaknya
dengan penuh cinta. Nasehat ini akan terasa dalam ketika dibaca. Boleh siapapun
untuk membacanya. Ini ditulis untuk menyalurkan rasa hangat seorang Ayah pada siapapun
yang membutuhkan kehangatan. Sebab, nasehat ini tak hanya untukku. Tapi untuk
para putri manapun yang mulai dewasa.
Pelajaran ini hebat sekali. Sangat hebat. Bekal untuk
menapaki jejak-jejak kehidupan yang bermakna. Membuat siapapun yang membaca tak
akan kuasa untuk menolak kehebatan dan kebenaran nasehat ini. Sungguh, aku dan
kalian sesungguhnya amat beruntung menyisakan waktu luang untuk membaca sebuah
nasehat. Terlebih tentang “hati”. Pembahasannya tak akan mudah. Saat ini banyak
sekali orang yang menutup hati tentang sebuh nasehat. Dan ini adalah nasehat
dari seorang ayah yang luar biasa mengenai pembahasan yang istimewa, tentang
sebuah “HATI”.
Dan mulailah nasehat menyejukkan ini…
Saat anak berusia 1 tahun, nasehat yang diberikan ayah dalah
tentang kekuatan. Kita tak pernah sadar denga nasehat yang diucapkannya.
Jangankan sadar, mengerti saja tidakj. Yang kita tahu hanya apa yang ingin kita
lakukan. Akupun demikian. Namun ku tahu ini setelah aku memiliki adik, dan
mulai paham dengan nasehat yang ayah sampaikan pada anak berusia 1 tahun. “Ayo
putriku, kau hebat sekali. Cerdas sekali. Pelan-pelan putri ayah pasti bisa
berjalan.” Ketika adikku terjatuh dan menangis, nasehat yang keluar dari
bibirnya lebih dalam lagi. “Jangan takut. Terjatuh itu
sakitnya hanya sebentar. Jangan menangis, ayo coba lagi.” Hingga secara
tidak langsung sugesti tersebut menjadi sebuah kekuatan untuk kita mampu
berjalan, menapak perlahan dan tertawa riang dengan pencapaian tersebut.
Saat anak berusia 10 tahun, nasehat ayah sejatinya adalah
tentang sebuah pertemanan. Akan tetapi nasehat ini sungguh berlaku sepanjang
usia. Ayah akan menjelaskan dengan cara yang menarik untuk memahami sesama
teman. Menanamkan rasa peduli dan pengertian yang besar. Terkadang anak usia 10
tahun tak benar-benar paham dengan nasehat ini, tapi ayah menekankan dengan
baik bahwa nasehat ini sungguh berlaku sepanjang usia. Teman adalah seseorang yang mengiringi hampir
seluruh bagian dari ceita kehidupan manusia. Itu sebabnya ayah akan memberikan
nasehat yang bermakna mengenai pertemanan.
Kuingat betul tentang nasehat-nasehat ayah mengenai pertemanan. Sebab
hal tersebut selalu kupakai dan kuingat pada setiap jengkal pertemanan.
“Nan ayahmu ini banyak tak disukai
orang. Tapi lebih dari itu ayah selalu mengenal baik teman-teman ayah.
dikhianati teman itu biasa. Dilukai teman itu wajar. Tapi cara berteman ayah
adalah dengan mengenal baik masing-masing dari mereka. Dengan begitu, betapa
sakit hatinya ayah ketika disakiti, atau dikhianati, rasa tersebut taka akna
bertahan lama. Tergantikan rasa syukur, sebab Tuhan telah menunjukkan
pelajaran. Dan apa yang ayah dapat dari sikap tersebut? Ayah menjadi seorang
yang lapang dalam pertemanan, ringan tangan dalam membantu, terus peduli dan
selalu mendalami makna ketulusan dan keikhlasan. Kelak pelajaran pertemanan
tersebut akan menjadi bekal untukmu. Tetap tabahkan hatimu, orang-orang yang
tak suka denganmu sebenarnya ingin belajar darimu, dan orang-orang yang tak kau
sukai sebenarnya adalah orang-orang yang ingin kau temani. Mulai dari sekarang
kenali dengan baik teman-temanmu. Selalu tunjukkan pikiran yang oleh
masing-masing karakter mereka. Dan teman-temanmu pun akan mengenali dirimu.
Dirimu yang luar biasa dalam berteman.” Nasehat ayah tentang berteman
ini sangat dalam. Sejauh ini kupegang benar-benar nasehatnya yang luar biasa,
tentang sebuah pertemanan.
Semakin besar, semakin dalam nasehat yang ayah berikan. Yang
paling berbeda dari caranya menyampaikan nasehat adalah ayah tak seekpresif dulu.
Ayah lebih tegas, dan lebih dalam ketika menyampaikannya. Kali ini aku sudah
lebih paham dalam setiap nasehat yang ayah ucapkan.
Saat ini aku berusia 18 tahun. Dan ayah memberikan nasehat
yang semakin dewasa, menurutku. Bukan lagi tentang pertemanan, bukan lagi
tentang cara berjuang, atau tentang kepedulia. Ini lebih sulit dan lebih
mendalam dari itu. ini adalah tentang perasaan. Lebih spesifiknya lagi, ini
adalah tentang “HATI”.
“Nan, dalam keluarga kita tidak ada
sejarahnya perempuan mengejar laki-laki. Semaju apapun zamannya, berjanjilah
bahwa kau akan mampu mengendalikan perasaanmu. Tak kurang-kurang ayah memberi
nasehat kepadamu. Menguatkan hatimu untuk dapat mnejaganya sebaik mungkin. Wajar
memang anak seusiamu tumbuh dnegan perasaan tersebut. Itu bagi dari proses.
Tapi untuk mengejar perasaan seorang laki-laki hingga melupakan harga dirimu
sebagai seorang perempuan jangan pernah kau lakukan. Kendalikan perasaanmu. Jadikan
do’a sebagai senjata paling mapuh. Terus pasrah dalam bermunajat. Hingga kelak
akan jumpa tepatnya masa, kasatria terbaik yang akan datang menghampirimu tanpa
pernah kau mengejarnya. Ingat, nasihat ayah ini dengan baik-baik. Jangan kau
lalaikan barang satu katapun. Atau kau akan menyesal dikemudian hati.”
Nasehat ayah ini berlanjut pada cerita-cerita yang lebih Panjang
lagi. Berlabuh pada nasehat-nasehat yang lebih dalam lagi. Sejujurnya pun aku
benar-benar sedang jatuh rasa. Mati-matian aku menahannya. Caranya tersenyum,
caranya bersemangat, caranya melakukan suatu hal selalu menarik perhatianku.
Aku remaja 18 tahun. Jelas perasaan ini adalah wajar. Sah saja dialami siapaun.
Tapi menjadi sulit karena aku tak mengungkapkannya. Tak bersedia ia
mengetahuinya. Ini adalah bentuk caraku mengamankan hati. Aku tak ingin
terburu. Sebab akupun belum pasti mengetahui perasaannya. Akhirnya gelisah,
resah, cemas, menjadi satu- kesatuan yang tak pasti datang silih berganti
merubah suasana. Hingga akhirnya masa tersebut tiba. Masa dimana aku pun tahu
kepastiannya. Tentang kesamaan rasa yang kami miliki.
Kuberanikan diri untuk bercerita pada ayah terkait
perkembangan hubungan kami. Tentang bagaimana latar belakang pemuda hebat ini.
Dan apa yang mmebuat ku tertarik akan sikapnya. Ku sebutkan Namanya. Ku perlihatkan
wajahnya, dan kujelaskan pertemuan kami. Ayah merespon positif dengan anggukan.
“Nanda, Nanda rupanya rasa tahumu
ini begitu besar. Perasaanmu pun tak terbendung. Kamu dnegarkan baik-baik ,
hakikat cinta adalah melepaskan. Semakin sejati, semakin tulus kau , melepaskannya.
Sejauh papaun jarak, sesulit papaun aral melintang Ia akan terus kembali
padamu. Sayangnya kebanyakan orang yang merasakan jatuh cinta melupakan
kebijaksanaan tersebut. Saling terang mengungkpakan rasa tapi saling mengekang
erat-erat. Membuat sesak nafas dan tercekat. Besok-besok penjelesan ini akan ayah
perdalam lagi. Sejauh ini biarkan saja rasamu. Biarkan ia mengalir, tapi tetap
kendalikan hatimu. Dan pahami kebijaksanaan. Dengan begitu kaupun akna
tenggelam dengan kepasrahan. Ingat hatimu tak banyak orang yang memilikinya.
Jadi jangan kau serahkan Cuma-Cuma untuk hal-hal yang akan membuatnya binasa.”
…….
Nasehat ayah tentang hati akan selalu sehangat ini. Masih
banyak kehangatan nasehat lainnya yang ingin dibagi. Pada kesempatan berikutnya.
Pada kisah selanjutnya. Nasihat ayah tentang hati selalu menjadi sesuatu yang
dalam untuk dikaji.
Semoga nasehat ini menyentuh hati siapapun yang membacanya. Sebab
pembahasan ini tidak sesederhana cara menulisnya. Sejujurnya semua tentang “HATI”
adalah “RUMIT”.
Komentar
Posting Komentar