DASI UNTUK FARIZ


DASI UNTUK FARIZ
(RASA, MIMPI DAN AMBISI)

Siapakah seseorang yang membawaku keluar dari kekakuan yang semu dari hati yang menutup pintu? Yang mengenalkan warna kecuali hitam, putih dan jingga yang mulai kelabu? Tentang sebuah pertemuan sederhana namun menyimpan kejutan nyata? cukup sampai sini, kalian pasti telah bertanya-tanya. Siapa yang gerangan mampu membawaku melangkah setahap demi setahap setelah mati kutu dengan rasa. Seperti apa pertemuan kita, hingga membuatku yakin untuk kembali menata rasa. Atau, hal manis apa yang dilakukannya hingga membawaku jatuh rasa. Jawabannya adalah, tidak ada yang spesial dari kita, melainkan mimpi kita masing-masing.

Nama pemuda itu adalah Fariz. Lebih lengkapnya, tak akan kubuka disini. Nanti, setelah cukup waktu membuat kalian bertanya-tanya tentang siapa gerangan dia. Pertemuan kita singkat. Tak banyak cakap, tak banyak kesempatan bertemu karena tugas yang berbeda. Terlebih keadaan yang sama memaksa kita harus menahan rasa dibalik jeruji asrama. Latar belakang dari perasaan ini hadir adalah, keinginan itu sendiri.

Kali ini, aku tak ingin bersikap layaknya gadis lugu yang malu-malu mengungkapkan rindu. Aku ingin lebih berani dari apapun dan siapapun diriku sebelumnya. Rindu ini memang hadir dan aku tak dapat menghalaunya dengan bersikap baik-baik saja. Ia muncul secara tiba-tiba dan enggan pergi membawa prasangka baik-baik saja.

Aku tak mengenalnya lebih dari sekedar nama, tanggal lahirnya, atau sekedar mengingat seperti apa wajahnya. Yang kutahu, dia adalah seseorang penuh ambisi dan kekuatan untuk memimpin sesuatu. Atau begini saja, aku tak memahaminya lebih dari bagaimana caranya berdo’a dan memanjatkan harap. Caranya taat dan bagaimana caranya menjaga ilmu yang selama ini diembannya.

Kesempatan kita bertemu hanya sebentar. Sesaat. Sangat sesaat. Tapi dia adalah yang pertama yang berhasil mengabadikan sejarah Bersama ku dengan begitu akrab dan dekat. Tak perlu dengan ucapan untuk sekedar mengungkapkan perasaan kita masing-masing. Cukup hening, dan melalui sikap kita yang menghangat.

Dia lucu, sangat lucu. Jaimnya sungguh terlalu. Itu lah hal yang membuatku selalu rindu. Sikapnya kekanak-kanakan, hingga membuatku bertanya-tanya, seperti apa dan bagaimana kehidupannya. Dari sorot matanya, aku melihat sesuatu. Aku tak tahu apakah ini sebatas praduga sangka atau memang hal tersebut benar adanya. Kadang dari matanya, aku melihat nya sebagai seseorang yang ramai,  penuh semangat hidup, penuh ambisi dan penuh kesibukan. Tapi terkadang aku melihat sorot mata kesepian, kesedihan dan kehampaan dalam sebuah relung yang kosong. Aku ingin bertanya kenapa, tapi kehadiranku belum tepat untuk mendengar jawabnya.

Cita-citanya menjadi orang besar. Menjadi seseorang yang ingin turut berkontribusi bagi negri. Berkaitan dengan itu, aku memiliki hadiah kecil untuknya. Sekedar untuk memberikan semangat agar Ia tak merasa sendirian. Sekedar hadiah kecil sebagai pengantar dukungan yang tak dapat kuucapkan dengan kata. Dasi kecil berwarna biru donker. Tampak manis sekaligus gagah untuknya.

Dasi kecil ini, tak memiliki alasan kenapa harus kuberikan untuknya. Karena yang lebih penting dari alasan, adalah harapan dibaliknya. Dasi ini tak mengantarkan alasan, melainkan dasi ini mengantarkan harapan. Aku pun tak tahu, apakah dasi ini akan menjadi dasi yang spesial untuknya, tapi bagiku dasi ini adalah sakral untuk pengantar masa depannya kelak.  Harapan dariku semoga masa depannya dapat menjadi seseorang yang menggunakan dasi dan berderet rapi Bersama jajaran petinggi negri.  Mendengarkan aspirasi dari segenap rakyat yang terus menyuarakan kesejahteraan. Aku tak berharap banyak, karena manusia tak boleh berharap dengan manusia. Tapi, sejak pertama kali mengenalnya, dan memahami idealismenya, aku rasa kita berada pada jalan dan tujuan yang sama. Percaya atau tidaknya kalian mengenai alur semesta tak menjadi apa, tapi bagiku sendiri, setiap seseorang yang memiliki tujuan yang sama, akan berakhir pada jalan dan tempat yang sama. Dan mungkin itu kita.

Aku sangat bersyukur apabila bertemu dengan seseorang yang tak pernah Lelah untuk turut membawa kemajuan negri ini. Aku percaya betul bahwa estafet bangsa kita berada di tangan pemuda-pemuda hebat dan berkarakter. Semoga aku dan Fariz adalah salah dua diantara banyaknya pemuda lainnya yang ingin turut berjuang memberikan warna baru di Bangsa ini. Warna hebat yang dialirkan oleh pemuda-pemuda hebat pula. Menurut kita, mimpi kita adalah masa depan bangsa. Oleh sebab itu saling mendukung satu dengan yang lainnya sangat perlu dilakukan guna keeratan dan kehangatan sesame pejuang dalam satu tujuan. Dasi yang kuberikan ini merupakan bentuk dukunganku untuknya. Sebab, entah dimasa yang akan datang nantinya, aku pun tak berani menduga, yang ku tahu hanya memanjatkan doa, siapa tahu dukunganku untuknya lebih dari sekedar memberikan dasi, melainkan menjadi seseorang yang selalu memberikan support system dengan cara tak terduga.

 Jujur bagi kita berdua, yang saat ini sedikit paham mengenai rona dan arus pemerintahan saat ini, selalu ingin turut berkontribusi. Bahkan kita berada pada role model yang sama, sehingga tak sulit untuk kita menentukan rancangan, dan bertukar pikiran. Karena sudah dipastikan akan sign satu dengan lainnya. dinamika rasa diantara kita juga cukup menawan. Masing-masing diantara kita sangat pandai mengendalikan. Taka da ucapan kata jadian, bahkan untuk sekedar saling mengungkapkan pun penuh kemisteriusan. Sebab rasa kita adalah ambisi kita, ambisi kita adalah mimpi kita, dan mimpi kita adalah kemajuan bangsa. Cepat atau lambat rasa kita dengan ambisi yang besar dan mimpi kita yang tinggi akan mengantarkan kita pada dinamika rasa yang lebih serius dari sekedar perasaan pemuda sebaya kita lainnya. Itu sebabnya, kita lebih memilih cara-cara berstrategi yang tak banyak dimengerti banyak orang. Cukup, aku, dia, dan Tuhan serta pengantar do’a-do’a kita yang selalu ingin diaminkan semesta secara sacral dan serius.

Dasi untuk Fariz. Mungkin sedikit meceritakan betapa perlunya saling mendukung perihal mimpi yang akan besar dan terwujudkan. Usia kita memang masih muda, tapi kita yakin dengan mimpi-mimpi kita. Dasi untuk Fariz ini, pengantar dukungan, semoga kelak dia dapat menjadi seseorang yang dapat berbaris rapi menjadi petinggi negri, dan aku menjadi salah satu pendampung terbaik yang turut berkontribusi.

Mari kita tutup blog ini dengan sebuah sajak, sebab sejarah akan lebih indah dengan sajak yang terkandung di dalamnya.
--ORANG-ORANG BERDASI--
Dasi itu tampak menawan
Melingkar pada kemeja
Menampilkan kesan elegan
Sekaligus rupawan
Penampilannya menggambarkan
Tingginya Pendidikan dan kecerdasan
Apa yang diucapkannya menjadi panutan
Apa yang di lakukannya menjadi teladan
Wibawanya membawa aura kebaikan
Bijaksananya mencitrakan sikap tanggung jawab

Orang-orang berdasi berderet rapi
Saling menjabat mantap
Mengemban amanat untuk tekad kemajuan rakyat
Pendengar yang baik untuk masa depan kelak
Pundakmu nanti membawa kepercayaan bangsa
Setiap langkahmu kelak bermimpikan kesejahteraan
Perkataanmu merupakan kebijakan dan sorotan

Oleh sebab itu,
Menyandang penampilan berdasi untukmu tak kan mudah
Sebab dibalik banyaknya simpatisan lebih banyak yang ingin menjatuhkan
Akan tetapi ketahuilah
Kemana ragamu terbang tinggi
Dimana tubuhmu menginjakkan kaki
Atau bagaimana pemikiranmu terkait tangung jawab negri
Ada seseorang yang akan selalu membersamaimu
Membersamaimu dengan sederhana
Dan mendukungmu tiada henti
Akan ada seseorang yang akan selalu menyiapkan warna kemeja,

Dan memakaikan dasi untukmu
Sebab kutahu,
Kau pantas untuk jabatan itu dan sebutan itu
Menjadi orang-orang berdasi
Itulah orang terbaik untukmu

Ini ramalanku. Do'a paling do'a


Komentar

Postingan Populer