GURAT DI WAJAHNYA
GURAT DI WAJAHNYA
Saat aku bertemu dengannya, tidak ada yang berbeda darinya. Senyumnya tetap sama, senyum seorang pejuang, senyum seorang pahlawan dan senyum seorang penyayang. Sifatnya sama, sama dengan kebanyakan, Ia tampak kaku dan protektif tetapi selalu bijaksana. Nadanya sama, berirama tegas dan berat. Terkadang sedikit menggelagarkan. Tapi jelas berwibawa. Tapi hari ini ada yang berbeda darinya. Dibagian wajahnya. Bukan tanpak hitam atau sedikit putih. Bukan juga menghalus atau glowing, tapi wajahnya yang mulai menampakkan gurat. Dan itu adalah sebagai bentuk bukti tentang kelelahan-kelelahan yang dipendamnya.
Menginjak kelas akhir, Ia lebih sering datang keasrama, atau menambah jam telpon dari sebelumnya. Katanya, di kelas-kelas akhir seperti ini aku jelas membutuhkan banyak arahan dan banyak kata-kata panas untuk membangkitkan semangat tak pantang menyerah. Ya, bagaimanapun juga Ia selalu menginginkan yang terbaik, namun cenderung memaksa. Tak apa, semuanya impas dengan apa yang diberikannya kepadaku, sebagai bentuk fasilitas, bentuk dukungan, bentuk penegasan, dan bentuk kasih sayang.
Minggu lalu, Ia sudah mendatangiku dengan perasaan bungah. Dibawanya aku kepada sebuah tempat pusat perbelanjaan elektronik. Ia sudah berjanji untuk membelikanku sebuah laptop baru untuk menunjang ujianku. Dengan harga yang jauh diluar perkiraanku. Laptop yang kupilih bukan barang murah. Aku jelas memilih sesuatu yang baru, dengan kualitas yang bagus. Ia tak menggeleng, mengiyakan. Membayar dengan santai. Tak lupa membelikanku peralatan lainnya yang menunjang. Semuanya tanpa ba-bi-bu. Sampai kutanya "Kok tumben begini?" Ia hanya menjawab. "Pasukan mau perang butuh peralatan. Kalau mau hasilnya bagus, alat-alatnya harus sepadan. Selamat bertempur di medan perang." dengan bahasa dan gestur tubuh yang enteng. Aku tertahan dalam hati.
Minggu ini, Ia datang menjengukku lagi. Mengeluarkan kwitansi pembayaran. Aku tahu betul itu kwitansi apa. Itu adalah kwitansi pembayaran sekolahku yang berbasis Boarding atau Asrama. Tak tanggung-tanggung. Angka 5 didampingi enam 0 dibelakangnya menjadi saksi tanggung jawab Ia pada jihadku dalam menuntut ilmu. "SPP sudah, pembayaran buku sudah, dan les sudah. Sekarang selamat bertempur dimedan perang." PTS memang minggu depan. Itu adalah hal yang selalu dilakukannya menjelang ujian. Ia juga membawa serta paket lengkap. Mengajak jalan-jalan dan makan diluar sebagai energi sebelum tempur esok lusa.
Aku paham betul. Gurat diwajahnya memang bertambah, dan saat itu bertambah pula kenyamanan yang aku rasakan. Aku tahu. Gurat diwajahnya bertambah, dan saat itu bertambah pula kebutuhan yang aku butuhkan untuk tercukupi. Aku tahu. Gurat diwajahnya bertambah, dan saat itu pula semangatku harus juga bertambah. Demi melihat wajahnya tetap berseri meski Ia menua kian hari.
Pekerjaannya sebagai juru warta sudah menyita waktunya untuk memenuhi tanggung jawabnya kepada penerima warta. Hidupnya sudah 12 tahun Ia habiskan pada mesin-mesin tik yang berbeda-beda masanya. Mulai dari yang sederhana hingga yang canggih sekalipun. Dan itu menjadi pundi-pundi yang mencukupi kebutuhan ku selama ini.
Selain itu, Ia habiskan waktunya untuk mengurus usahanya yang baru. Ribuan ayam jawa super dan ribuan lele harus Ia berikan fasilitas yang terbaik untuk mendapatkan kualitas yang terbaik pula. Ia bolak-balik mengurusnya untuk usahanya tersebut. Sebab katanya, masa tuanya akan Ia habiskan dengan menjadi peternak yang menjajikan. Jelas aku tahu, berternak ayam jawa super tak akan rugi. Sebab semua rakyat Indonesia suka ayam. Itu sebabnya Ia terus bersholawat dengan yakin untuk usahanya. Aku membantu mendoakan yang terbaik untuknya.
Suatu waktu aku pernah bertanya. "Kena nurutin semua kemauanku. Kenapa mau, padahal semua kebutuhanku tu serba mahal?" Ia menjawab "Kamu ga perlu mikirin ini itu, kamu ga perlu mikirin susah gampangnya, karena jelas kamu tahu prosesnya. Disitu kamu harusnya mulai berpikir tentang perjuangan dan pendewasaan. Semua ini adalah bagian dari tanggung jawab, semua ini adalah bagian dari dukungan. Kelak kamu akan jadi orang tua. Kamu harus melakukan yang sama, bahkan lebih. Sebab pusat semesta perlu diberikan kesempatan untuk senantiasa bercahaya dan menyinari yang lainnya. Maka lakukan sesuai tugasnya. Kamu pusat semestanya, dan jelas aku adalah kesempatannya. Itu sebabnya tak perlu kamu pikir berapa banyak yang kukorbankan untuk memberikan kesempatan itu."
Ya, guratan di wajahnya memang bertambah, dan aku tahu itu adalah bentuk kesempatan dan pengorbanan yang luar biasa untuk membuatku menjadi pusat semesta. Perlahan tapi pasti, kesempatan itu tidak akan pernah sia-sia. Tidak akan. Dan guratan diwajahnya, merupakan guratan yang muncul karena seringnya Ia tersenyum dengan bangga, menebah dada.
Komentar
Posting Komentar