EGOISENTRIS
EGOISENTRIS
MASA
LALU KE-SEKIAN
Bagaimana
jika kau adalah ruang kesukaan untuk semua masalaluku?
Apa
cukup membuatmu merasa terhormat?
Atau
masih kurang untuk memenuhi semua inginmu?
Ada
hal yang cukup penting selain menjadi penting
Yaitu
menjadi bijak
Bijaklah
untuk menaruh angan,
Dan
mengatur ingin,
Karena
semua bisa dihempas mudah oleh angin
Pahami
setiap tanya,
Karena
yang dicari bukan hanya penjelasan
Tapi
juga arti//
Persis
saat aku menulis ini, sejujurnya malam telah begitu kelam. Memadu padankan
pertujukan semesta yang begitu indah. Hari ini aku begitu lelah. Ada begitu
banyak pekerjaan yag harus kuselesaikan dalam sekali waktu. Termasuk persiapan
ku untuk hijrah ke suatu tempat dalam waktu yang cukup lama. Mungkin kau tak
akan sempat bertanya, atau bahkan ingin bertanya, kemana langkahku ingin pergi
selanjutnya, karena kau sendang sibuk dengan kehidupanmu yang sedang
bahagia-bahagianya dan aku merasakannya dengan berharap baik-baik saja. Hanya saja
pada malam ini, aku teringat akan sesuatu bahwa mungkin ada yang lebih lelah
dariku saat ini. Dan tak terkecuali kau
Semesta
rupanya benar-benar begitu apik memainkan kebetulan-kebetulan yang sejatinya
adalah takdir terbaik. Kebetulan saat ini aku sedang begitu banyak cerita keberhasilan
yang ingin kubagi dengan banyak orang tapi sejatinya kurahasiakan. Entah,
hatiku masih berat, dan hanya ingin membaginya denganmu saja. Tapi aku sungguh
tak tau dengan cara apa. Selain mendo’a. kusebut namaku dalam lisanku tapi
hatiku menyebut namamu.
Jangan
berubah, sungguh jangan berubah. Sekalipun kita harus berpisah jarak sejauh apapun
nanti, tak sempat bahkan untuk saling menyembunyikan cerita masing-masing. Meskipun
kau memintaku untuk meninggalkanmu agar kau tetap hidup akan kulakukan. Jangan berubah
dan hanya itu saja. Karena aku sungguh ingin berpindah. Berpindah dan cukup
lama untuk kembali ke kota yang begitu istimewa. Kota yang menjadi saksi
terbelahnya 2 sinar di langit istimewa. Kota yang menjadi kebetulan antara
pertemuan kita sebagai makhluk Tuhan. Dan kota yang membuat hatiku menetap belum
ingin sekalipun berpindah.
Kali
ini aku menjauhi senja. Aku tak lagi suka bercerita padanya. Aku begitu sensitive
melihatnya. Jadi aku mengadu pada dinginnya malam saja. Bahwa sejatinya
pikiranku terjebak prasangka. Hingga kuresah setiap harinya.
Aku
resah membayangkanmu yang mudah jatuh hati. Aku resah berimajinasi tentang
pertemuan-pertemuanmu dengan insan-insan Tangguh di puncak tertinggi. Aku resah
memikirkan tentang ingatanmu dan semua janjimu yang dulu sempat terucapkan. Aku
resah menantimu yang terlihat sebagai seseorang yang tak kunjung siap dengan tanggung
jawab mengenai rasa ini. Aku resah bertanya-tanya tentang waktu, kapan kau akan
kembali. Aku resah, dan ini membuatku lelah. Secara terus menerus menyiksaku
agar lemah. Itu membuat pikiran rasionalku terjebak dengan segala prasangka.
Bolehkah
aku egois malam ini?
Aku
sungguh ingin egois. Ingin egois pada kenyataan yang kuhadapi saat ini. Betapa Tuhan
sangat baik memberiku kesempatan bertemu dengan begitu banyak manusia hebat. Tak
sedikit dari pertemuan ini memberikan interaksi yang dahsyat pula. Bahkan banyak
yang lebih tak terduga lagi. Banyak dari kita sevisi-misi, setujuan,
seperjalanan, dan saling meyakinkan satu dengan yang lainnya, tapi aku tetap
tak bisa egois. Berat bagi hatiku untuk berambisi memilih yang lain. Yang jelas
secara apapun lebih daripadamu. Aku sungguh ingin egois memerhatikan masa
depanku dengan banyak orang yang jelas telah memberiku angin segar. Jelas mereka
memberikan keterangan tentang sebaik-baiknya penghidupan. Tapi tetap saja ku
gantungkan rasa ini pada mu yang begitu suram. Bahkan aku tak paham apa arti mimpi
bagimu? Apa tujuanmu?
Kau
tentu tau, gaungku tak perlu kau ragukan lagi. Bahkan aku ingin menyombong
sebenarnya, sejauh ini ketika kita sedang mengistirahatkan rasa, aku telah
begitu hebat melanglang buana. Aku ingin menyombong padamu, bahwa sebenarnya
aku ingin begitu pelik untuk kau terjemahkan. Aku ingin menyombong padamu, bahwa
aku sangat hebat dan terus menerus meningkat. Aku semakin keras berkompetisi,
untuk ini dan itu. Dan ingin kubuktikan padamu “hey, aku bukan seseorang yang
lemah. Tak akan kalah. Waktuku saat ini hanya sempat untuk berpikir tentang
masa depan dan bijak mengahadapinya. Perihal kamu, biar Tuhan saja yang tahu.”
Mungkin
begini, aku bingung. Apalagi yang dapat kulakukan kecuali terus berusaha
menjadi baik bahkan lebih baik lagi tentang mimpi ketika mengisi kekosongan
saat ini. Apalagi yang dapat kulakukan untuk menarik perhatianmu kecuali dengan
sesuatu yang terus meningkat lagi dan lagi dari sebelumnya. Namun nyatanya, kau
begitu sederhana dan caraku tak ampuh untuk menaklukkannya. Justru aku menarik
kutub-kutub insan lainnya, dan saat ini aku pusing bagaimana cara menghalaunya.
Sejujurnya,
setengah aku menyatakan perihal pengkhianatan. Dan setengah yang lainnya mengungkap
tentang kejutan. Bila malam ini aku diberi kesempatan untuk bertemu denganmu. Berhadap-hadapan
di depanmu aku pasti menangis. Entah karena rindu entah karena pilu. Aku pun bertanya-tanya,
apakah kau akan tetap dingin tanpa ekspresi melihat wajahku menangis? Melihat air
mata ini luluh? Melihat sesuatu yang menarik hati dari banyak orang?
Hari
ke harinya adalah kekuatan. Dan malam ke malamnya adalah kepasrahan. Karena perihal
mencintaimu, aku hanya ingin menjadi aku dengan sajak tertaih di sepertiga
pagi. Yang kelak kau baca meski dengan kekakuan yang menjelma letih pada
sesuatu bernama hati. Sebab bait-baitnya selalu tercecer dimanapun, bahkan disetiap
sudut sekalipun. Ia Bersama rindu yang menjulang tinggi. Terbawa pada
puncak-puncak tertinggi hingga turun sampai beranda rumahmu dan turun hingga
kau tanggalkan sepatu itu.
Begitu
sederhana namun dalam.
Jadi
begini, biarkan saja mala mini aku berimajinasi. Hari ini aku mencintaimu sebagai
rencana-rencana. Nanti dimasa depan aku ingin mencintaimu sebagai sesuatu yang
nyata. Yang selalu dinanti kedatangannya pada cat rumah berwarna abu-abu dengan
pagar berwarna coklat kayu. Teras rumah yang luas menyambut kedatanganmu dengan
hangat. Diatas meja terhidang secangkir kopi dan secangkir teh. Menemanimu yang
sedang bercerita tentang pengelanaanmu terhadap semesta dan aku yang sibuk
mendengarkannya dengan tatapan tak menyangka. Sediam apapun dirimu, kau tentu
punya kisah yang ingin kau bagi. Kau akan menjelaskan padauk mengenai
ekspedisimu melewati jalan terjal, kau akan menjelaskan padauk mengenai
pendakian yang curam, kau akan menjelaskan padauk bahwa tidak ada yang pantas diriku
remehkan mengenai pengelanaan. Dan aku akan mendengar dengan takzim sambal berpura-pura
ingin, padahal sejujurnya aku begitu takut menghadapi alam.
Ya,
dan kau akan bercerita di teras rumah bercat abu-abu yang aku impikan. Rumah yang
ku ingin kutempati dengan segala cerita-cerita. Istana yang menjadi harapanku
untuk mengistirahatkan pikit. Dan tentunya saksi bisu yang kuinginkan untuk
menemani hari-hari hingga kita menua Bersama. Tak perlu luas, tak perlu megah. Cukup
hangat.
Ya,
dan ini adalah sebuah rencana.
Sebuah
proposal hidup yang kulayangkan pada Tuhan. Dengan kepasrahan segala ingin ini
sejalan dengan takdir-Nya.
Karena
hari ini aku mencintaimu dengan sebuah rencana, dan kelak di masa depan aku
ingin mencintaimu sebagai sesuatu yang nyata.
Dan
aku cukup percaya diri, sejauh apapun kakimu melangkah pergi. Setinggi jiwamu
menuju puncak dari bumi, dan sehebat apapun ragamu membawamu, aku adalah rumah
terbaik untukmu kembali. Menjadi sesuatu yang kau nanti-natikan saat kau penat.
Jika
kau butuh pendengar yang hebat, aku lah orangnya.
Jika
kau ingin ucapan yang menenangkan, aku lah tepatnya.
Dan,
jika kau penuh tanya dengan ketidak tahuan, aku lah jawabannya.
Kemarilah
ada sesuatu yang telah kupersiapkan untuk menanti kedatanganmu.
Kau tentu tau aku begitu sibuk saat ini, begitu
ingin mewujudkan ini dan itu, karena nanti setelah ini, aku hanya akan penuh
mengabdi. Tak perlu kau tanya lagi, tentu pengabdianku jelas tertuju pada siapa
nantinya.
Nantikan
aku menyambutmu dan kau tak akan pernah menyesal menjatuhkan pilihan itu.
Egois
terhadap hatiku sendiri.
Komentar
Posting Komentar