Perihal mimpi dan kita yang mungkin Usai bahkan tak pernah memulai
pada wajahmu yang mencumbu pikiranku. Juga pada bayanganmu yang melumat habis bibir hari-hariku. Membuahkan mimpi yang bahkan takkan kau mengerti mengapa aku memimpikan hal tersebut.
Kau mungkin akan geli, tentang kata-kata dalam tulisan ini yang akan menelanjangi keraguan dalam hatimu.
Kau dan Aku. Sama-sama manusia yang sedang menanti kontribusi Kuasa tentang kelangsungan antara hengkang dan bertahan. Bukan saja perihal kehidupan ini yang akan terus berlangsung, tetapi juga tentang banyaknya mimpi kita yang akan segera lahir.
Aku tak akan melarang kau memberi makan egomu, sebab itu adalah suatu keharusan tak penting yang bagaimanapun harus ada dalam dirimu.
hanya saja kau tak boleh lupa,bahwa ada janji dan mimpi yang juga harus kau nafkahi.
begitu pula denganku, aku akan tetap berusaha mengupayakan egoku untuk tetap tumbuh. tetap kuberi makan. juga pada mimpi dan janjiku yang senantiasa ku beri asupan hidup.
Teruntuk :
Wajahku memang memuakkan
peduliku kau anggap omong kosong
tulusku kau remehkan dusta belaka
tak apa
karena dalam tulisan ini akan kuberikan penerimaan yang seluas-luasnya
mungkin juga sebagai bentuuk penjelasan panjang dalam kisah 2 sinar yang berakhir dengan tanda seru
sebab bila dibacakan, akan kuterima seruan-seruanmu yang tajam menusuk tak kuasa
bila kutarik ulur harusnya dalam surat teruntuk ini, kuucapkan maaf daan terimakasih atas segala sumpah serapahmu, makianmu, dan semua kesalahanku yang memicumu melontarkan kata-kata tak berperasaan tersebut.
ya, bukan saja kau tak berperasaan, bukan saja hatimu tak terlatih untuk memaafkan namun barangkali memang aku yang terlalu berlebihan menangkap berita semesta mengenai kepedihan.
munkin, bukan kau yang terlalu liar untuk dijinakkan, akan tetapi aku yang terlalu memaksa kepasrahan.
sungguh, ini bukan tulisan patah hati atau sakit hati. ini adalah tulisan rasa syukur, setulus-tulusnya, sebesar-besarnya, segila-gilanya.
karena setelah bertahun-tahun lamanya aku meneguhkan hatiku untuk seseorang yang bahkan buram dan tak ingin mengerti, kini akhirnya aku terbebas. aku tidak bodoh lagi. dan aku juga sedang berusaha untuk memerdekakan rasaku.
bila kau tuliskan bahwa tanganku menari dalam bentuk kebohongan, kuterima. bahwa setiap manusia berhak akan intuisi ketidak percayaan.
dan jika kau baca tulisan ini lalu terbayang wajahku yang memuakkan, kau boleh mengakhirinya. namun tetap kuminta kau sempatkan untuk membaca kelanjutannya.
karena sungguh ini adalah tulisan permohonan segan. sebesar-besarnya. setulus-tulusnya. segila-gilanya.
permohonan seganku atas segala ketidak nyamanan yang selama ini ku hadirkan dalam bentuk sikap maupun apapun. termasuk dalam tulisan ini yang mungkin akan memicu amarahmu.
selanjutnya, ku ucapkan terimakasih.
terimakasih pada segala sabar yang kau ajarkan dengan praktek acuhmu.
terimakasih atas segala kebaikan yang kau berikan dengan teori ketidak pedulianmu.
terimakasih atas segala lapang dada yang seluas-luasnya untuk segala pesakitan yang mungkin sedang berusaha menemukan obatnya.
terimakasih pada segala ilmu dalam pembicaraan basi yang tak kunjung dengan ujung.
terimakasih atas segala hikmah dalam kisah yang terlunta ini.
ya, dan terimakasih serta maaf untuk mengakhiri semua hal tak jelas ini.
hingga pada ujungnya,
aku menjadi paham...
mana yang perlu diperjuangkan
mana yang perlu dilepaskan
dan kapan harus memulai menjadi bijak untuk lebih pandai mengelola perasaan
selamat. semakin liar menghadapi hari-harimu. semakin kelam menjalani hidupmu. semakin keras hatimu. semakin apatis rasamu. semakin pasif nuranimu. semakin tersandung langkahmu. semakin sakit dadamu. semakin sepi jiwamu. semakin kosong batinmu. semakin lelah ragamu.dan semakin gelap duniamu.
dan bila peduli tak mampu membantumu memperbaiki itu semua, semoga karma yang mengajarimu apa arti hidup yang sebenarnya.
dan ketika mulai kau rasakan itu, jangan sekali-kali kau tengok kebelakang sebab semuanya telah buram. sama seperti kau dan aku yang tak pernah jelas. hanya sebatas semu belaka.
ku berdoa pada Tuhan, bila kau sudah jatuh, sejatuh-jatuhnya, sebab kau sandarkan rasamu pada ego yang rapuh, juga kau gantungkan nuranimu pada akal yang picik, dan tak ada lagi manusia yang ingin memanusiakanmu sebab segala rasa apatismu yang tak masuk akal, aku masih dianugrahi rasa ketidak tegaan untuk sekedar mengulurkan tangan.
Kau mungkin akan geli, tentang kata-kata dalam tulisan ini yang akan menelanjangi keraguan dalam hatimu.
Kau dan Aku. Sama-sama manusia yang sedang menanti kontribusi Kuasa tentang kelangsungan antara hengkang dan bertahan. Bukan saja perihal kehidupan ini yang akan terus berlangsung, tetapi juga tentang banyaknya mimpi kita yang akan segera lahir.
Aku tak akan melarang kau memberi makan egomu, sebab itu adalah suatu keharusan tak penting yang bagaimanapun harus ada dalam dirimu.
hanya saja kau tak boleh lupa,bahwa ada janji dan mimpi yang juga harus kau nafkahi.
begitu pula denganku, aku akan tetap berusaha mengupayakan egoku untuk tetap tumbuh. tetap kuberi makan. juga pada mimpi dan janjiku yang senantiasa ku beri asupan hidup.
Teruntuk :
Wajahku memang memuakkan
peduliku kau anggap omong kosong
tulusku kau remehkan dusta belaka
tak apa
karena dalam tulisan ini akan kuberikan penerimaan yang seluas-luasnya
mungkin juga sebagai bentuuk penjelasan panjang dalam kisah 2 sinar yang berakhir dengan tanda seru
sebab bila dibacakan, akan kuterima seruan-seruanmu yang tajam menusuk tak kuasa
bila kutarik ulur harusnya dalam surat teruntuk ini, kuucapkan maaf daan terimakasih atas segala sumpah serapahmu, makianmu, dan semua kesalahanku yang memicumu melontarkan kata-kata tak berperasaan tersebut.
ya, bukan saja kau tak berperasaan, bukan saja hatimu tak terlatih untuk memaafkan namun barangkali memang aku yang terlalu berlebihan menangkap berita semesta mengenai kepedihan.
munkin, bukan kau yang terlalu liar untuk dijinakkan, akan tetapi aku yang terlalu memaksa kepasrahan.
sungguh, ini bukan tulisan patah hati atau sakit hati. ini adalah tulisan rasa syukur, setulus-tulusnya, sebesar-besarnya, segila-gilanya.
karena setelah bertahun-tahun lamanya aku meneguhkan hatiku untuk seseorang yang bahkan buram dan tak ingin mengerti, kini akhirnya aku terbebas. aku tidak bodoh lagi. dan aku juga sedang berusaha untuk memerdekakan rasaku.
bila kau tuliskan bahwa tanganku menari dalam bentuk kebohongan, kuterima. bahwa setiap manusia berhak akan intuisi ketidak percayaan.
dan jika kau baca tulisan ini lalu terbayang wajahku yang memuakkan, kau boleh mengakhirinya. namun tetap kuminta kau sempatkan untuk membaca kelanjutannya.
karena sungguh ini adalah tulisan permohonan segan. sebesar-besarnya. setulus-tulusnya. segila-gilanya.
permohonan seganku atas segala ketidak nyamanan yang selama ini ku hadirkan dalam bentuk sikap maupun apapun. termasuk dalam tulisan ini yang mungkin akan memicu amarahmu.
selanjutnya, ku ucapkan terimakasih.
terimakasih pada segala sabar yang kau ajarkan dengan praktek acuhmu.
terimakasih atas segala kebaikan yang kau berikan dengan teori ketidak pedulianmu.
terimakasih atas segala lapang dada yang seluas-luasnya untuk segala pesakitan yang mungkin sedang berusaha menemukan obatnya.
terimakasih pada segala ilmu dalam pembicaraan basi yang tak kunjung dengan ujung.
terimakasih atas segala hikmah dalam kisah yang terlunta ini.
ya, dan terimakasih serta maaf untuk mengakhiri semua hal tak jelas ini.
hingga pada ujungnya,
aku menjadi paham...
mana yang perlu diperjuangkan
mana yang perlu dilepaskan
dan kapan harus memulai menjadi bijak untuk lebih pandai mengelola perasaan
selamat. semakin liar menghadapi hari-harimu. semakin kelam menjalani hidupmu. semakin keras hatimu. semakin apatis rasamu. semakin pasif nuranimu. semakin tersandung langkahmu. semakin sakit dadamu. semakin sepi jiwamu. semakin kosong batinmu. semakin lelah ragamu.dan semakin gelap duniamu.
dan bila peduli tak mampu membantumu memperbaiki itu semua, semoga karma yang mengajarimu apa arti hidup yang sebenarnya.
dan ketika mulai kau rasakan itu, jangan sekali-kali kau tengok kebelakang sebab semuanya telah buram. sama seperti kau dan aku yang tak pernah jelas. hanya sebatas semu belaka.
ku berdoa pada Tuhan, bila kau sudah jatuh, sejatuh-jatuhnya, sebab kau sandarkan rasamu pada ego yang rapuh, juga kau gantungkan nuranimu pada akal yang picik, dan tak ada lagi manusia yang ingin memanusiakanmu sebab segala rasa apatismu yang tak masuk akal, aku masih dianugrahi rasa ketidak tegaan untuk sekedar mengulurkan tangan.
Komentar
Posting Komentar