Menjadi Santri SMA
Assalammualaikum semua pembaca Nanda History.
Sebelumnya aku mau sharing tentang ceritaku di masa Putih Abu-Abuku saat ini. Masa yang sangat-sangat diidam-idamkan kaum remaja. Masa peralihan dari remaja menjadi dewasa. Waktu-waktu yang katanya masa pencarian jati diri, waktu-waktu mempercantik diri, dan waktu-waktu memikat hati.
Sering banget kumpul sama temen-temen ditempat tongkrongan keren atau habisin hari libur nonton ke Bioskop. Jalan sama seseorang yang istemewa, makan bareng dan lain sebagainya. Pasti kita sebagai anak SMA tahu banget lah khas-khas begituan.
Khusus kelas MIPA lagi pusing-pusingnya ngerjain tugas-tugas dengan rumus-rumus Fisika, Kimia, dan Matematika sama pelajaran menghafal bagi Biologi.
Kalau kelas IIS lagi sering-seringnya debat Sosiologi, pahami pelajaran Sejarah, harus kuat hadapi Geografi dan ngitung-ngitung Ekonomi yang bikin tangan keriting.
Itu sudah menjadi rutinitas harian kita yang seru dan kami tidak mau melewatkannya sedetikpun.
Tapi....
Bagi kami seorang SANTRI...
Masa SMA tak ubahnya adalah masa untuk merenung. Merenungkan langkah hendak kemana kami berpijak. Memantaskan diri untuk seseorang yang telah dipilihkan oleh Illahi.
Kami tidak hanya berjurusan MIPA/IIS tapi kami juga berjurusan Akhirat tempat kami kembali.
Tidak hanya menghafal Biologi atau Sejarah tapi juga menghafal Al-Qur'an pedoman kami.
Tidak hanya berpusing-pusing mengerjakan Fisika, Kimia, Matematika atau Ekonomi saja, namun kami juga berpusing-pusing untuk berfikir bagaimana cara kami menjadi pendakwah untuk memperbaiki negri ini.
Tidak ada waktu untuk pergi bermalam minggu atau nonton kebioskop. Karena kami habiskan malam minggu kami dan waktu luang kami untuk mengkaji hadist dan pelajaran Fiqih untuk bekal hidup kami.
Bagi kami seorang SANTRI...
Ada kebanggan tersendiri.
Kami terjaga secara jiwa dan hati. Kami memilih jalan suci, dan pemilik kesederhanaan hati.
Kami menundukkan diri dari dunia yang fana. Menutup mata atas semua kejamnya pergaulan yang bahkan sangat khawatir jika kami bayangkan.
Wajah kami tak pernah terlepas dari cahaya air wudhu yang senantiasa menyinari.
Masa putih Abu-Abu kami...
Sangat indah dengan keterbatasan yang memang harus dibatasi. Menahan semua hal yang memang harus ditahan. karena semuanya telah Allah Esa yang menentukan jalan. Sibuk menjadi hamba yang berserah diri. Tak ada kegiatan lain bagi kami selain bersyukur, Ikhlas, berbuat baik dan terus memantaskan diri.
Akan ada masanya putih abu-abu kami sebagai seorang santri menjadi buah yang manis tak kenal masam atau bahkan pahit. Karena kami disini sedang menanam benih ternaik.
Untuk pohon kehidupan yang terus tumbuh meninggi dengan akar yang teguh hati.
Terimakasih MBS, sudah memberikan kami tempat sederhana. Menjadi tempat untuk menuntut ilmu ynag berguna. Mendidik kami dengan sederhana, dan mengenalkan peduli yang indah.
Terimakasih MBS, masa putih abu-abu kami indah tak terperi...
Kami juga bisa jalan-jalan lho ya, Study Banding gitu ceritanya
Kami juga unik cari spot foto, naik keatas asbes contohnya.
Subhannallah senyum santriwati menawan hati
kami juga jalan-jalan berprestasi.
Gaya kekinian tapi tetap syar'i
Ini kami Goes to Lampung buat Olimpiade Nasional lho.
Assalammualaikum Untuk Seseorang yang bersedia...
Kutunggu kamu dengan segala persiapan yang tak terkira
Ku pantaskan diri untukmu yang dipilihkan
Ku siapkan untaian kata-kata indah yang akan kurangkaikan sedemikian rupa
Hanya untukmu orang yang bersedia
(Mohon maaf, santri sedang berimajinasi...)




Komentar
Posting Komentar