Si Bening

Aku tetap hening

Tergugu dalam riak bening
Terjaga dalam hitam
Yang berbicara pada gelap
Menebar senyum untuk menahan peluru yang menghujam
Bersama rimisnya hujan
Menuntun kepada sapaan perpisahan
Menahan-nahan airnya yang marah
Melonjak-lonjak ingin basah
Bergemuruh angin bersenandung
Beramai-ramai debu saling melebur

Ya, sebening hening dalam hitam yang berbicara pada gelap
Sebening hening dalam kelabu yang berbincang pda kelam
Sebening hening dalam tenang yang samar-samar meneguhkan
Ku sampaikan...
Takut-takut kulambaikan tangan
 Mengibarkan tanda-tanda perpisahan
Pada jarak dan waktu yang sudah sampai masanya

Berharap teguranmu dengan senyuman kecil
Mengantar segala rajutan cerita berdurasi sementara
Sama seperti deringan SEMENTARA yang pernah terlantunkan
Samar-samar dalam ingatan
Namun tak akan pernah padam

Jagalah apa yang selama ini tetap hening
Pahamilah apa yang dibiarkan terjaga bening
Bertahanlah pada apa yang dirahasiakan
Berjanjilah pada kisah yang ingin diceritakan

Biarkan si Bening tetap hening 
Diam-diam menjaga agar tak pudar
Meski mengerti cetar bergetar mudah saja menjatuhkan
Si Bening tetap bertahan
Kuat-kuat agar tak lemah
Meski bisa saja riak pasang melemahkan

Si Bening tetap hening
Menanti si Penjaga yang mungkin disana entah ragu entah yakin
Bersabar untuk mendapat kepastian si Cahaya,
Yang mungkin disana entah lupa entah ingat
Mengerti untuk si kehidupan,
Yang mungkin disana entah pudar entah berwarnakah

Dan si Bening akan tetap hening
Meski batin berteriak rusuh
Menuntut kepastian yang kelak akan lusuh

Si Bening...

Kepada Penjaga Cahaya Kehidupan...
Yang tanpa janji itu, 
Entah berpisah...entah bersua...
Dan beginilah cara Tuhan mempertemukan kita. Tuhan indah mengatur sebuah kisah klasik membentuk sejarah bahagia.
Semua tentangmu adalah sebuah rahasia yang tak terduga. Rahasia sejuta makna dalam rangkaian kata...
Siapa yang kutuliskan kisahnya dalam jutaan lembar kertas, jutaan baris membentuk sebuah kata beruntut terangkai menjadi cerita?
Siapa yang selalu ingin Ku lihat siluet senyumnya di bawah naungan jendela?
Siapa yang selalu kunanti kedatangannya dengan kutitipkan salam padanya lewat rimisnya hujan?
Siapa yang kulihat punggunya berjalan jauh dengan koko coklat, kaos hitam, topi, berpeci, bersorban, dengan seragam putih dan dengan tas coklatnya tak lupa gitarnya?
Siapa yang kurahasiakan tentangnya dalam sejuta wajah namun ku simpan tentangnya dalam sebuah munajat?

Dan jawabannya hanya satu..
Iya, si Penjaga Cahaya Kehidupan...
Hanya dia yang memenangkan rangkaian paralel bahagia juga berkecamuk.
Hanya dia yang selalu menjadi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan rahasia
Hanya dia yang saat ini kutunggu-tunggu hingga suatu saat nanti kepastiannya
Aku tahu malam ini langit sedang tertawa...
mentertawakanku yang sudah amat jatuh terlalu dalam
Hinnga mengenyahkan semua sudut pandang gila tentangnya,
Kelak aku akan lebih mengenalnya dengan caraku sendiri, kudapatkan kuncinya juga dengan caraku sendiri, tak perlu payah-payah mencari, karena kuyakini Tuhan yang akan menunjukkannya
Seperti apapun nanti jarak dan waktu memang akan bermain dalam putarannya. Dia yang cukup jauh di Selatan Ibu Kota dan aku yang berada pada ujung Daerah Istimewa. Namun tidak akan pernah ada rasa takut...
Karena hanya dia yang mampu menundukkan semua hal agar tak sedikitpun berkhianat.
Aku mempercayainya. 
Jika waktu terasa lama, biarkan kita yang membuatnya terasa cepat
Jika jarak terasa jauh, biarkan kita yang membuatnya sedemikian dekat
Kata kita memang masih terasa asing, namun akan kugunakan...
Aku sudah mengakuinya...
mengakui semua hal tentangnya
Tak lagi tersipu pada rembulan, juga bertanya pada bintang
Diam-diam menitipkan salam pada rimisnya hujan
Namun kata BERUBAH tak akan pernah hilang pada keadaan apapun
Aku menerimanya...
Menerima tentang segala perubahan yang kelak akan datang, merubah segala hal yang sedemikian indahnya. Bahkan yang akan merubah segala rasa dan rahasia. 
Jangan lupakan tentang apapun itu. Sungguh jangan. Masing-masing diantara kita sudah paham akan batas kita dan zona mana yang kita pilih. Jangan keluar. Tetap pada garisnya.
Kutitipkan semua tentangmu dengan merasa baik-baik saja. 
Meski saat itu, saat suara rel kereta api bergesekan, air mata ini meloloskan tubuhnya, dan aku membiarkannya untuk yang pertama kalinya. Ku tepis berulang kali namun sialnya dia begitu melonjak-lonjak basah. Mungkin marah, kenapa takdir begitu cepat mengatakan pisah. Aku tak dapat menafsirkan apa yang kurasakan. Aku seakan tak mengenal apa emosi pagi itu. Hingga harus memaksa berkata baik-baik saja.
Namun aku mengerti, seberapa jauh dia melangkah, kelak akan kembali mencari kuncinya yang tertinggal. Dan dengan berat hati mengakuinya, aku begitu berharap akulah kunci itu.
Saat ini mungkin dia sedang membaca tulisan berlebihan ini. Tulisan yang begitu lancar menari-nari dalam huruf. Walau berat dirasa, memang ini keputusan yang terbaik.
Biarkan kita masing-masing menggapai apa yang ingin kita capai. Dan jika sudah tiba pada masanya tinggalah kita menuai. Mengukir sejarah hebat di masa depan. 
Mengukir kenangan yang lain dari yang lain.
Sejauh ini dia yang memenangkan banyak hal tentang segala hal.
Jika bertanya maksudnya, aku pun tak mengerti,..
Karena semua tentangnya adalah rahasia. 
Itu maksudnya senantiasa bening
Bening dalam hening...
Sungguh harapannya seperti namanya, tetap menjaga, tetap bercahaya dalam kehidupan selanjutnya...
Terimakasih...
Kepadanya...
Maafkan tulisan berlebihan ini...

 
 

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer