Senja Dalam Pelabuhan Yang Kecil



Bagaimanapun saat ini aku sedang mencari tempat berlabuh untuk sampanku yang kecil ini. Sampan yang mempunyai keinginan untuk dapat terdayung hingga menjelajah luasnya samudra yang tak berbatas. Mustahil memang, karena sampan ini hanya kecil dan hanya berasal dari sebuah pelabuhan yang tak ada kata luas.
Ya, sampan ini memang sedang bermimpi. Sama seperti pemiliknya, yang tak takut-takut untuk bermimpi. Berbicara soal mimpi. Tidak akan pernah ada kata nyata jika mimpi itu tidak didasari dengan landasan semangat, kekuatan, tekad dan ketulusan.
Jika mereka yang menghina pelabuhan ini tak ubahnya hanya tempat kecil yang tidak dapat melepas dan menerima kapal pesiar, dan hanya dapat menampung sampan kecil yang diterpa ombak akan segera terbalik, mereka yang berkata demikian adalah mereka yang tidak mengerti tentang apa itu perjuangan yang sesungguhnya.
Perjuangan, pelabuhan ini mengenalkan aku dan sampanku kepada masa depan.
Kecil,
Terpojokan,
Dan segala hal bagian dari kata-kata untuk menggambarkan keadaan pelabuhan kecil ini.
Namun jangan ditanya lagi, pelabuhan ini tak ubahnya akan segera meluluskan para nelayan luar biasa,
Mereka yang mau mengenal, mensinggahi, dan mengerti pelabuhan ini. Terlahirlah mereka menjadi sosok nelayan tidak takut ombak, karang diterpa badai dan pengamat rasi bintang luar biasa. Pelabuhan yang didirikan dan dihuni oleh banyak orang yang hebat.
Akan kujelaskan...
Pelabuhan inilah yang kumaksudkan tempat paling indah untuk menatap senja yang megah.
Pelabuhan inilah kiasan bagi pondok balita yang akan segera tumbuh berkembang. Diisi oleh para santri yang kusebut sebagai nelayan luar biasa. Juga dikokohkan oleh banyak orang yang akan kujelaskan sebagai tenaga didik yang hebat.
Pelabuhanku juga pondokku ini nyatanya adalah tempat kulabuhkan masa depanku dengan segudang mimpi berharap nyata.
Inilah tempatku menatap senja juga terbitnya fajar, tempatku untuk merasakan pahit getir perjuangan.
Menaung segala rindu kepada masa depan yang teduh,
tidak sekedar hanya angan yang semu,
Namun perjuanganku pada pelabuhan yang kecil ini tak akan jemu-jemu.
Bagi orang yang menyadarinya,
tempat yang kusebut pelabuhan ini tidak sekedar menawarkan pelajaran IPA, Matematika, dan berbagai bahasa.
Tidak juga sekedar pelajaran Ilmu sosisal, Sejarah juga Kewarganegaraan,
Tidak sebatas ilmu Tajwid dan keagamaan.
Tidak hanya berseragam biru-putih pada hari Senin dan Selasa.
Atau setiap hari Rabu dan Kamis berpakaina coklat-kuning,  dan tiba pada hari Jum'at dan Sabtu mengenakan Hizbul Wathan dan Olahraga.
Di tempat yang kusebut pelabuhan ini ada pelajaran kesabaran,ketulusan juga perjuangan.
Berseragamkan jahitan prinsip yang menguatkan tekad.
Berkerudungkan moral, akhlak dan etika.
Berlandaskan aqidah, dengan metode Istimewa.
Hasilnya bahkan mengalahkan para pejuang olimpiade yang bertaraf nasional, atau bisa kusebut sebagai kapal pesiar yang besar.
Bisa diadu wibawa dan ketenangan dalam bersikapnya.
Dapat dilihat dari semburat senyum menawan para tenaga didiknya.
Boleh ditinjau perjuangannya.
Pelabuhanku juga Pondokku,
Bahkan sedang berusaha membangun segala pembangunan yang memadai.
Namun sejatinya...
Pelabuhan juga Pondokku ini lebih dari cukup untuk menggali potensi diri.
Memiliki akses untuk membangun jati diri.
Mempersiapkan kelak jadi petinggi negri ini.
Mempersiapkan gelar dan mahkota terindah di Akhirat nanti.
Jangan ditanya betapa luar biasanya Pelabuhan juga Pondokku ini.
Yang sekarang sedang diperjuangkan untuk membuat banyak orang sibuk mengantri untuk merasakan bagaimana menikmati indahnya senja di pelabuhan yang kecil ini.
Biarlah pelabuhan ini akan mencapai titik jayanya dengan caranya sendiri,
Dengan cara perjuangan yang tak akan dimengerti kecuali jika dirasakan sendiri.

Senja dengan pelabuhan yang kecil...

Komentar

Postingan Populer