Teruntuk...
"Kita tidak akan menjadi kisah PEJUANG yang memilih patah dan menyerah...
Kita adalah KEPEDULIAN dengan kisah klasik sederhana dalam sejarah masa muda...
Salam
November yang Mewangi"
.
.
.
Saya memang tidak pandai mengabadikan karya dalam goresan pena,
terlebih pula mengolah suara dengan iringan dawai gitar,
saya hanya mampu untuk merangkai kata, yang mungkin dapat mengutarakan suatu makna...
Semangat saya bukan berarti semangatmu,
kita berjalan searah namun berbeda tujuan
Harapanku bukan berarti harapanmu,
Yang meski terus menerus salah satu harus ada yang patah atau terpatahkan
Pemahaman saya bukan berarti pemahamanmu,
Sepanjang usaha saya jika memang tidak ada keputusan untuk memahami bukan berati itu semua tidak berguna dan sia-sia, karena ada sesuatu dibalik kejadiannya
Itu bertanda, tidak ada yang patut menyerah sebelum permulaan , namun kenyataan yang memang menunjukkan suatu hal yang berbeda
Semudah datang dan pergi memberikan kesan, menggoreskan sayatan meninggalkan jejak dan begitu seterusnya.
Namun itu dia, ini adalah kisah suatu kepedulian yang tak mengenal ujung
Karena kepedulian sejatinya adalah sebuah pengabdian
Ia akan selalu datang memberikan kesan dan akan menetap
Ia tidak tinggal dengan luka
Ketahuilah...
Peduli itu bukanlah sekedar perasaan
karena sejatinya peduli adalah sebuah ketulusan
Tidak akan ada orang lain yang mengetahui hidupnya lebih dari dirinya sendiri, tanpa kepedulian hidup itu tak akan ada maknanya sedikitpun
Terkadang peduli akan membawa kita untuk merasakan segala hal yang baru dan berbeda, memberikan pengertian sejatinya tidak ada yang patut untuk diabaikan sedikitpun, bahwa sebenarnya peduli yang akan mengingatkan kita untuk tetap tenang dan terarahkan.
Saat itu, berat untuk menerima tugas tentang kepedulian, mengajarkan kepada banyak orang untuk melihat lebih banyak lagi, menyadarkan banyak orang untuk tidak memilih diam dan menyembunyikan.
Namun dengan tugas itu pada akhirnya kita dapat menjadi seseorang yang tidak akan memilih patah dan menyerah begitu saja, walau sangat banyak hal yang akan menderap merapuhkan.
Dalam hidup, terkadang kita lupa bagaimana cara kita untuk bahagia, namun kita selalu mengingat bagaimana cara kita mengeluarkan air mata
Juga kita selalu melupakan kejadian pertemuan dan selalu mengenang adanya perpisahan
Perlahan-lahan, aku merasa untuk mulai cukup mengenalkan peduli terhadapmu, tapi sebenarnya tertahan akan sebuah harapan yang tidak memungkinkan.
" Tugas saya hanya sebatas mempedulikanmu dan mengajarkan hal yang demikian terhadapmu. Walau saya tahu ada seribu ragu akan ketidak mungkinan, namun saya percaya tiap-tiap orang didalam hatinya terdapat kepedulian, dan seandainya pemilik hati itu hanya sebatas mengetahuinya namun belum mengenalnya pasti ada 1001 cara bagaimana Ia akan memahaminya. Saya percaya itu."
Sulit untuk terus mempedulikanmu dan akan terus memaksa perasaan ini sebatas itu. Karena lebih dari itu adalah sebuah ketidak mungkinan.
Bagaikan sinar pagi dan sinar sore...
pengibaratannya kamu sinar pagi dan saya adalah sinar sore. Kita tidak akan pernah bertemu dalam satu sinar karena sebuah rotasi. Itu merupakan masalah terbesar dalam perbedaan mereka yang akan selalu diingat menjadi sebuah ketidak mungkinan luar biasa. Tanpa ada yang mengetahui bahwa sebenarnya mereka memiliki semburat jingga yang sama.
Hal yang perlu diingat adalah berlalunya pagi menuju sore dan perginya sore untuk kembali pagi adalah keindahan dengan keistimewaan jingga masing-masing.
Dan itu adalah saya bersama kamu, kita mengetahui namun tidak saling mengenal.
Itu bukan suatu apa, tapi aku hanya berharap kenallah peduli dan berbahagia bersamanya, karena peduli yang akan menuntunmu untuk mengenal saya.
Betapa sadarnya saya, ini semua terasa sangat sulit. Membuka sebuah pintu yang sudah lama terkunci, sesak dan berlubang. Saya harus menembus dalamnya kegelapan, berjalan secara perlahan-lahan untuk membawa sebuah kepedulian yang akan menyeruak masuk. Saya harus egois, kepedulian yang menyeruak masuk agar dapat membuka lebar dan membiarkannya lebih leluasa menjelajah kedalam. Ma'afkan saya harus berlaku demikian . Saya mengetahui betapa bosannya, namun suatu saat kamu akan memahaminya.
Terkadang saya merasa begitu naif, kenapa kisah indah ini tidak berksempatan untuk diceritakan? Hingga hanya dapat terpendam kedalam alam bawah sadar. Datang bersama bunga tidur menyenangkan, hingga akhirnya dunia datang membuyarkan semuanya. Menyedihkan.
Menyisakan lagu sendu yang penuh ketabuan.
Elegi, itu lebih tepatnya.
Saat lelah datang menyapa, saya ingin sekali untuk melambaikan tangan saya, MENYERAH. Karena mungkin saya yang terlalu percaya diri bahwa kamu akan segera mengerti namun rupanya tak kunjung sadar bahkan amat sangat mengacuhkan.
Dua kata yang akan selalu saya ingat saat itu. Dua kata yang merusak semua harapan saya, hingga akhirnya saya dapat membedakan mana MIMPI dan HARAPAN atau OBSESI yang tak tahu diri.
"Saya adalah manusia biasa. Yang sudah pastinya punya batas kesabaran. Semua tentangmu, tentang mengajarkanmu kepada kepedulian, tentang memahamkanmu kepada sebuah arti kesendirian, dan menyadarkanmu kepada sebuah perasaan. Dan sekarang saya akui saya lelah. Seberapa lam lagi saya harus menunggu kelambananmu yang luar biasa ini. Saya sudah terlanjur berjuang dan berharap keras namun rupanya NOL. Dari sejauh ini yang saya dapat adalah benar. Yang dikatakan kebanyakan orang sama sekali tidak salah, bahwa kamu memang hanya sekedar pintar namun sedikitpun tidak terdapat kepekaan. Saya merutuki kebodohan saya saat ini."
Kurang lebih itu yang saya pikirkan dulu. Saya bagaikan orang yang tidak pernah mengenal peduli. Hanya karena dua kata yang terlalu payah untuk diingat. Setelah itu saya berpikir ulang, mulai untuk peduli lagi dan kian mengerti. Karena dengan berpikiran sedemikian sempit akan membuat saya sulit berkreasi dan terus pada bayang imajinasi. Kita yang terjebak dalam ruang ilusi masing-masing. Dan saat ini saya ingin tertawa, menertawakan diri saya yang ternyata sangat hiperbola, bak cerita dalam drama telenovela.
"Saya akan baik-baik saja." saya ucapkan itu berkali-kali, saya tekankan itu berkali-kali, dan saya ingat itu, tidak pernah saya lupakan. Hingga pada akhirnya saya simpulkan.
Saya tegar karena saya peduli, saya kuat karena saya peduli. Dengan kepedulian mengajarkan kepada kita akan banyak hal. Tentang peyikapan dan tentang perasaan. Saya ada karena saya peduli. Dan ketika saya lelah untuk tidak peduli itu tandanya saya kepedulian telah lenyap dari diri saya. Dan ini semua tentang peyikapan, bagaimana saya harus mengerti sebuah kondisi."
Hingga saat ini kepedelian akan menawarkan kepadamu tentang banyak hal.
Silahkan mainkan melodimu, maka peduli akan mendengarnya,
Silahkan tenggelam dalam ilusimu, peduli akan membawamu pada daratan kenyataan
Tidak perlu menunggu riak-riak berlabuh, karena Ia tidak akan berlabuh pada pelabuhan yang berbeda.
Walaupun sebenarnya ini semua terasa sangat menyakitkan,
Ketika untaian sajak tak berbentuk sajak
Ketika rentetan rima tak berirama
Ketika tertawa namun rupanya tak bahagia
Sampai detik ini dan saat ini semua masih begitu teringat, saat kata-kata mulai terangkai. Saat itu saat tangan saya menuliskan kata LELAH, saat itu saat mata saya saksi kata LELAH, saat itu saat hati saya tidak menentu rasanya. Masih teringat, bagaimana punggungmu duduk sedikit tegak sedikit membungkuk, punggungmu yang berjalan jauh, punggungmu yang menatap kejauhan dan punggungmu yang memunggungi banyak hal di belakangmu. Termasuk saya saat itu.
Tak apa, sedikitpun tidak masalah. Saya patut merasa bersyukur, sangat bersyukur.
Saya merasakan kepedulian, bahkan bertugas untuk mengajarkannya kepada banyak orang. Begitu banyak yang saya dapat untuk belajar.
Saya tidak membutuhkan penghargaan atau sebuah kata berhasil, namun yang saya dambakan adalah menikmati segala peduli atas apa yang saja yang saya dulu lakukan atas nama kepedulian dan ketulusan.
Sejarah hidup saya akan mencatatnya, bagaimana caranya tetap merancang cita dengan karya walau tidak pasti dan bagaimana caranya tetap bergerak walau dalam sepi.
Mulailah semua kisah yang sedikit demi sedikit tidak akan jadi naif , akan terceritakan walau hanya sedikit
Orang yang memendam perasaan kepedulian lebih sering kali terjebak oleh hatinya sendiri.
Nah itu adalah saya yang salah, menjadikan kepedulian ini menjadi sebuah perasan. Saya sibuk merangkai kejadian disekitar saya untuk membenarkan hati saya berharap, saya sibuk membungkam banyak hal agar hati saya senang menimbun mimpi, saya memang selalu seperti itu.
Segala perasaan iini kembali datang bagai seribu anak panah yang menghunjam. Semakin menusuk hingga kedalam kerapuhan sukma yang amat sangat meluluh lantahkan .
Sungguh begitu ingin, sangat ingin bahkan jika mungkin harus untuk membunuh setiap pucuk perasaan. Tumbuh satu harus segera dipangkas, bersemai satu langsung terinjak, menyeruak satu langsung tercabut tanpa ampun.
Hujan kali ini begitu indah untuk mengingat, meski setelah itu harus bersusah payah untuk melupakan.
Malam ini hujan deras sekali, menderap setiap langkah untuk datang berteduh. Membawa perasaan masing-masing.
Namun hujan kali indah, setiap tetesnya adalah nyanyian,
setiap tetesnya adalah kebahagiaan
setiap tetesnya adalah kekuatan
setiap tetesnya adalah usaha
setiap tetesnya adalah keindahan
setiap tetesnya adalah pertahanan
setiap tetesnya adalah harapan
Setiap hujan tiba, saya titipkan salam
Saya mohon, tolong sampaikan
Setiap hujan datang, saya titipkan kata
Saya minta, tolong berikan
Juga setiap hujan meruntuhkan dirinya tangan ini terlalu banyak menengadah, memohnkan segalanya
Salam itu saya titipkan, ibarat mawar merah merekah, lengkap dengan daun tanpa duri
Kata itu saya berikan, walau hanya deretan huruf membentuk kata rapi dengan spasi
Dan do'a itu...cukup saya yang tahu sendiri
Pada dasarnya saat ini saya sibuk menerka-nerka bagaimana wajah di sebrang sana, muramkah, membuang mukakah, bosankah atau tersenyumkah...
Namun yang saya harapkan, saya tidak akan membuat saya semakin naif dan saya tidak akan membohongi diri saya sendiri.
Meskipun juga seiring ini saya mohonkan maaf bahwa kepedulian ini memang berakhir jatuh pada perasaan
Tentunya dengan ketulusan
Pada akhirnya, dingin itu tidak selamanya membekukan, justru yang dingin itulah yang bisa jadi paling meluluhkan
Yang jelas, setelah ini atau beberapa tahun yang akan datang, ketika waktu begitu cepat berlalu, cerita ini tidak akan terlupakan sepanjang sejarah masa muda. Mungkin disebrang sana beberapa orang yang mengetahui akan tertawa menertawakan betapa hiperbola dan lucunya tulisan ini.
Namun sejujurnya tulisanlah yang mengungkap sebuah makna...
Saya akui, saya jatuh terhadapmu...
dinginmulah yang ternyata mampu meluluhkan kehangatan banyak orang
Kita adalah KEPEDULIAN dengan kisah klasik sederhana dalam sejarah masa muda...
Salam
November yang Mewangi"
.
.
.
Saya memang tidak pandai mengabadikan karya dalam goresan pena,
terlebih pula mengolah suara dengan iringan dawai gitar,
saya hanya mampu untuk merangkai kata, yang mungkin dapat mengutarakan suatu makna...
Semangat saya bukan berarti semangatmu,
kita berjalan searah namun berbeda tujuan
Harapanku bukan berarti harapanmu,
Yang meski terus menerus salah satu harus ada yang patah atau terpatahkan
Pemahaman saya bukan berarti pemahamanmu,
Sepanjang usaha saya jika memang tidak ada keputusan untuk memahami bukan berati itu semua tidak berguna dan sia-sia, karena ada sesuatu dibalik kejadiannya
Itu bertanda, tidak ada yang patut menyerah sebelum permulaan , namun kenyataan yang memang menunjukkan suatu hal yang berbeda
Semudah datang dan pergi memberikan kesan, menggoreskan sayatan meninggalkan jejak dan begitu seterusnya.
Namun itu dia, ini adalah kisah suatu kepedulian yang tak mengenal ujung
Karena kepedulian sejatinya adalah sebuah pengabdian
Ia akan selalu datang memberikan kesan dan akan menetap
Ia tidak tinggal dengan luka
Ketahuilah...
Peduli itu bukanlah sekedar perasaan
karena sejatinya peduli adalah sebuah ketulusan
Tidak akan ada orang lain yang mengetahui hidupnya lebih dari dirinya sendiri, tanpa kepedulian hidup itu tak akan ada maknanya sedikitpun
Terkadang peduli akan membawa kita untuk merasakan segala hal yang baru dan berbeda, memberikan pengertian sejatinya tidak ada yang patut untuk diabaikan sedikitpun, bahwa sebenarnya peduli yang akan mengingatkan kita untuk tetap tenang dan terarahkan.
Saat itu, berat untuk menerima tugas tentang kepedulian, mengajarkan kepada banyak orang untuk melihat lebih banyak lagi, menyadarkan banyak orang untuk tidak memilih diam dan menyembunyikan.
Namun dengan tugas itu pada akhirnya kita dapat menjadi seseorang yang tidak akan memilih patah dan menyerah begitu saja, walau sangat banyak hal yang akan menderap merapuhkan.
Dalam hidup, terkadang kita lupa bagaimana cara kita untuk bahagia, namun kita selalu mengingat bagaimana cara kita mengeluarkan air mata
Juga kita selalu melupakan kejadian pertemuan dan selalu mengenang adanya perpisahan
Perlahan-lahan, aku merasa untuk mulai cukup mengenalkan peduli terhadapmu, tapi sebenarnya tertahan akan sebuah harapan yang tidak memungkinkan.
" Tugas saya hanya sebatas mempedulikanmu dan mengajarkan hal yang demikian terhadapmu. Walau saya tahu ada seribu ragu akan ketidak mungkinan, namun saya percaya tiap-tiap orang didalam hatinya terdapat kepedulian, dan seandainya pemilik hati itu hanya sebatas mengetahuinya namun belum mengenalnya pasti ada 1001 cara bagaimana Ia akan memahaminya. Saya percaya itu."
Sulit untuk terus mempedulikanmu dan akan terus memaksa perasaan ini sebatas itu. Karena lebih dari itu adalah sebuah ketidak mungkinan.
Bagaikan sinar pagi dan sinar sore...
pengibaratannya kamu sinar pagi dan saya adalah sinar sore. Kita tidak akan pernah bertemu dalam satu sinar karena sebuah rotasi. Itu merupakan masalah terbesar dalam perbedaan mereka yang akan selalu diingat menjadi sebuah ketidak mungkinan luar biasa. Tanpa ada yang mengetahui bahwa sebenarnya mereka memiliki semburat jingga yang sama.
Hal yang perlu diingat adalah berlalunya pagi menuju sore dan perginya sore untuk kembali pagi adalah keindahan dengan keistimewaan jingga masing-masing.
Dan itu adalah saya bersama kamu, kita mengetahui namun tidak saling mengenal.
Itu bukan suatu apa, tapi aku hanya berharap kenallah peduli dan berbahagia bersamanya, karena peduli yang akan menuntunmu untuk mengenal saya.
Betapa sadarnya saya, ini semua terasa sangat sulit. Membuka sebuah pintu yang sudah lama terkunci, sesak dan berlubang. Saya harus menembus dalamnya kegelapan, berjalan secara perlahan-lahan untuk membawa sebuah kepedulian yang akan menyeruak masuk. Saya harus egois, kepedulian yang menyeruak masuk agar dapat membuka lebar dan membiarkannya lebih leluasa menjelajah kedalam. Ma'afkan saya harus berlaku demikian . Saya mengetahui betapa bosannya, namun suatu saat kamu akan memahaminya.
Terkadang saya merasa begitu naif, kenapa kisah indah ini tidak berksempatan untuk diceritakan? Hingga hanya dapat terpendam kedalam alam bawah sadar. Datang bersama bunga tidur menyenangkan, hingga akhirnya dunia datang membuyarkan semuanya. Menyedihkan.
Menyisakan lagu sendu yang penuh ketabuan.
Elegi, itu lebih tepatnya.
Saat lelah datang menyapa, saya ingin sekali untuk melambaikan tangan saya, MENYERAH. Karena mungkin saya yang terlalu percaya diri bahwa kamu akan segera mengerti namun rupanya tak kunjung sadar bahkan amat sangat mengacuhkan.
Dua kata yang akan selalu saya ingat saat itu. Dua kata yang merusak semua harapan saya, hingga akhirnya saya dapat membedakan mana MIMPI dan HARAPAN atau OBSESI yang tak tahu diri.
"Saya adalah manusia biasa. Yang sudah pastinya punya batas kesabaran. Semua tentangmu, tentang mengajarkanmu kepada kepedulian, tentang memahamkanmu kepada sebuah arti kesendirian, dan menyadarkanmu kepada sebuah perasaan. Dan sekarang saya akui saya lelah. Seberapa lam lagi saya harus menunggu kelambananmu yang luar biasa ini. Saya sudah terlanjur berjuang dan berharap keras namun rupanya NOL. Dari sejauh ini yang saya dapat adalah benar. Yang dikatakan kebanyakan orang sama sekali tidak salah, bahwa kamu memang hanya sekedar pintar namun sedikitpun tidak terdapat kepekaan. Saya merutuki kebodohan saya saat ini."
Kurang lebih itu yang saya pikirkan dulu. Saya bagaikan orang yang tidak pernah mengenal peduli. Hanya karena dua kata yang terlalu payah untuk diingat. Setelah itu saya berpikir ulang, mulai untuk peduli lagi dan kian mengerti. Karena dengan berpikiran sedemikian sempit akan membuat saya sulit berkreasi dan terus pada bayang imajinasi. Kita yang terjebak dalam ruang ilusi masing-masing. Dan saat ini saya ingin tertawa, menertawakan diri saya yang ternyata sangat hiperbola, bak cerita dalam drama telenovela.
"Saya akan baik-baik saja." saya ucapkan itu berkali-kali, saya tekankan itu berkali-kali, dan saya ingat itu, tidak pernah saya lupakan. Hingga pada akhirnya saya simpulkan.
Saya tegar karena saya peduli, saya kuat karena saya peduli. Dengan kepedulian mengajarkan kepada kita akan banyak hal. Tentang peyikapan dan tentang perasaan. Saya ada karena saya peduli. Dan ketika saya lelah untuk tidak peduli itu tandanya saya kepedulian telah lenyap dari diri saya. Dan ini semua tentang peyikapan, bagaimana saya harus mengerti sebuah kondisi."
Hingga saat ini kepedelian akan menawarkan kepadamu tentang banyak hal.
Silahkan mainkan melodimu, maka peduli akan mendengarnya,
Silahkan tenggelam dalam ilusimu, peduli akan membawamu pada daratan kenyataan
Tidak perlu menunggu riak-riak berlabuh, karena Ia tidak akan berlabuh pada pelabuhan yang berbeda.
Walaupun sebenarnya ini semua terasa sangat menyakitkan,
Ketika untaian sajak tak berbentuk sajak
Ketika rentetan rima tak berirama
Ketika tertawa namun rupanya tak bahagia
Sampai detik ini dan saat ini semua masih begitu teringat, saat kata-kata mulai terangkai. Saat itu saat tangan saya menuliskan kata LELAH, saat itu saat mata saya saksi kata LELAH, saat itu saat hati saya tidak menentu rasanya. Masih teringat, bagaimana punggungmu duduk sedikit tegak sedikit membungkuk, punggungmu yang berjalan jauh, punggungmu yang menatap kejauhan dan punggungmu yang memunggungi banyak hal di belakangmu. Termasuk saya saat itu.
Tak apa, sedikitpun tidak masalah. Saya patut merasa bersyukur, sangat bersyukur.
Saya merasakan kepedulian, bahkan bertugas untuk mengajarkannya kepada banyak orang. Begitu banyak yang saya dapat untuk belajar.
Saya tidak membutuhkan penghargaan atau sebuah kata berhasil, namun yang saya dambakan adalah menikmati segala peduli atas apa yang saja yang saya dulu lakukan atas nama kepedulian dan ketulusan.
Sejarah hidup saya akan mencatatnya, bagaimana caranya tetap merancang cita dengan karya walau tidak pasti dan bagaimana caranya tetap bergerak walau dalam sepi.
Mulailah semua kisah yang sedikit demi sedikit tidak akan jadi naif , akan terceritakan walau hanya sedikit
Orang yang memendam perasaan kepedulian lebih sering kali terjebak oleh hatinya sendiri.
Nah itu adalah saya yang salah, menjadikan kepedulian ini menjadi sebuah perasan. Saya sibuk merangkai kejadian disekitar saya untuk membenarkan hati saya berharap, saya sibuk membungkam banyak hal agar hati saya senang menimbun mimpi, saya memang selalu seperti itu.
Segala perasaan iini kembali datang bagai seribu anak panah yang menghunjam. Semakin menusuk hingga kedalam kerapuhan sukma yang amat sangat meluluh lantahkan .
Sungguh begitu ingin, sangat ingin bahkan jika mungkin harus untuk membunuh setiap pucuk perasaan. Tumbuh satu harus segera dipangkas, bersemai satu langsung terinjak, menyeruak satu langsung tercabut tanpa ampun.
Hujan kali ini begitu indah untuk mengingat, meski setelah itu harus bersusah payah untuk melupakan.
Malam ini hujan deras sekali, menderap setiap langkah untuk datang berteduh. Membawa perasaan masing-masing.
Namun hujan kali indah, setiap tetesnya adalah nyanyian,
setiap tetesnya adalah kebahagiaan
setiap tetesnya adalah kekuatan
setiap tetesnya adalah usaha
setiap tetesnya adalah keindahan
setiap tetesnya adalah pertahanan
setiap tetesnya adalah harapan
Setiap hujan tiba, saya titipkan salam
Saya mohon, tolong sampaikan
Setiap hujan datang, saya titipkan kata
Saya minta, tolong berikan
Juga setiap hujan meruntuhkan dirinya tangan ini terlalu banyak menengadah, memohnkan segalanya
Salam itu saya titipkan, ibarat mawar merah merekah, lengkap dengan daun tanpa duri
Kata itu saya berikan, walau hanya deretan huruf membentuk kata rapi dengan spasi
Dan do'a itu...cukup saya yang tahu sendiri
Pada dasarnya saat ini saya sibuk menerka-nerka bagaimana wajah di sebrang sana, muramkah, membuang mukakah, bosankah atau tersenyumkah...
Namun yang saya harapkan, saya tidak akan membuat saya semakin naif dan saya tidak akan membohongi diri saya sendiri.
Meskipun juga seiring ini saya mohonkan maaf bahwa kepedulian ini memang berakhir jatuh pada perasaan
Tentunya dengan ketulusan
Pada akhirnya, dingin itu tidak selamanya membekukan, justru yang dingin itulah yang bisa jadi paling meluluhkan
Yang jelas, setelah ini atau beberapa tahun yang akan datang, ketika waktu begitu cepat berlalu, cerita ini tidak akan terlupakan sepanjang sejarah masa muda. Mungkin disebrang sana beberapa orang yang mengetahui akan tertawa menertawakan betapa hiperbola dan lucunya tulisan ini.
Namun sejujurnya tulisanlah yang mengungkap sebuah makna...
Saya akui, saya jatuh terhadapmu...
dinginmulah yang ternyata mampu meluluhkan kehangatan banyak orang
Komentar
Posting Komentar