Diamku...

Teruntuk...
Kutulis kisah-kisah ini di malam-malam yang panjang, bagaikan goresan cemas yang tak terhankan
Aku menulisnya bersama segala rasa naif dan kata-kata tak tahu diri ini
Kenapa tak tahu diri?!
Ia selalu merangkaikan maksud yang tak masuk akal,
Yang penuh khayal
dan sarat akan ketidak pastian
Itulah mengapa dia tak tahu diri
Menyalahkan tulisan, itu lebih tidak masuk akal lagi
Lebih parah dari yang dibayangkan
Namun merutuki diri sendiri bahkan lebih tidak baik lagi
                                 ...
Jelaskanlah bila ada yang salah
Karena sungguh aku adalah orang asing yang sekedar berusaha untuk tetap diam
Dibawah mega mendung ketidak pastian
Jelaskanlah agar aku tak lagi diam
Jelaskanlah karena yang dapat kulakukan adalah menunggu dan menerima bukan memulai atau mengawali
Sungguh sebenarnya aku bukan pendiam
sangat tidak pendiam
Namun kata-kata yang ingin ku katakan terpatri dan terkunci dibawah naungan
Lebih dari itu Kuasa pasti tahu apa perbincangan terbaik disepertiganya
Pepatah dari Petua itu tidak pernah salah
Kodratnya kaumku memangnlah diam dan dipilih
Menunggu dengan segenap rasa yang tertunda
Kuasa sungguh adil,
Amat adil
Kaumku memang ditakdirkan untuk menjadi penyejuk
karena kaumku dengan sejuta keindahan
Saat ini yang ingin kutulis adalah permohonan
Permohonan untuk yang Kuasa
Jadikan diam ini berhenti di titik Ketaatan
melewati rasa suka dan tak suka
karena aku tahu...
diam untuk mentaatiMu dalam hal yang tak Kau sukai adalah kelelahan dengan perjuangan dan gelimang pahala
Karena seringkali yang kunikmati adalah bagian dari ketidak tahuanku
Bagian dari berbagai hal yang akan menghalangi segala cita dan tujuanku
Segala yang akan ku tetapi di masa depan
Ku tahu begitu sulit
Sulit untuk terus terdiam dan tetap dibawah naungan perintah dan ketetapanMu
Karena aku tahu...
Dikala malam begitu pekat, dan mata lebih baik untuk terpejam
Rasa ini masih lincah melesat
Jauh melampaui ruang dan masa
Kelananya menderap bunga tidur
Menjejakkan mimpi-mimpi...
                 ....  
Sekarang tulisan ini lebih tahu diri
lebih mengerti
Jangan sampai terhempas di tengah belantara tak berbatas
Tetaplah diam..
Karena aku saat ini sudah mengerti
tak akan lagi jauh tersesat
Menjejakkan langkah untuk tetap baik-baik saja
Tenang rasa ini tidak akan pernah ditelan hari
Ia tidak akan menggelora lalu lekas meredup
Ia perlahan-lahan tapi tertanam
Tenggelam jauh didalam samudra kebahagiaan tak berbatas
Akhirnya aku mulai tersadar
Aku punya alasan untuk terus peduli
Kepadanya dengan tidak segera habis
Sajak-sajak nyanyian tentang sinar kembali terdengar
Peduli apa menginginkannya untuk paham?
Itu urusan yang Kuasa
karena itu sungguh sudah ada waktunya
Bersikaplah dengan penuh tindakan kedewasaan
Karena aku sungguh bukan lagi kanak
Agar rasa ini berbahagia indah dengan senyumnya
tidak bergemuruh di laut batin yang keruh
Bahkan guruku pernah berkata
bahwa tidak ada harapan kosong setelah mempercayai KuasaNya
Jika begitu tutuplah telinga tentang anggapan banyak orang
bahwa diamku tidak akan berdampak apa-apa
 Percayalah, Yang Kuasa sungguh indah mengaturkan pilihan
tidak perlu resah atau merana
Janji Kuasa itu pasti
Tak akan pernah diingkari
Walaupun rasa-rasanya...
Banyak cemas juga banyak rindunya
Ini dia Teruntuk...
Teruntuk dengan tulisan lebih tahu diri...

Komentar

Postingan Populer