Sepenggal Kisah Pesantren

10 Agustus menjadi pertemuan kita bersama. Menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di sebuah tempat yang cukup asing bagi kita. Mengenal hal-hal baru yang sebelumnya awam untuk kita. Menapaki sebuah perjalanan kehidupan menuju jenjang selanjutnya. Kisah awal kita, teringat ada yang menangis setiap malam meminta pulang, ada yang sudah mulai membisakan diri untuk mandiri dan menjalankan hidupnya disana. Lucunya lagi ada yang baru kenal langsung bermusuhan, lalu biasa lagi. Ya, seperti itulah mereka, juga termasuk aku. Setiap pagi mengantri sarapan dan mengantri untuk bergantian mandi pagi. Jika sore hari kita menghabiskan waktu di loteng bersama untuk mencuci baju dan menghabiskan waktu bersama menuju senja.
Pada tanggal 24 Agustus 2014, Pondok Pesantren yang menaungku dan teman-temanku bernama MBS Pleret Yogyakarta resmi menjadi Pondok Pesantren Modern MBS Pleret Yogyakarta. Saat itulah kita semua bersorak bahagia bersama tenaga didik yang mengajar kita bersama. Didirikan panggung yang cukup sederhana untuk memperingati acara Launching bersama MBS Pleret. Disaat itu aku ditunjuk untuk berpidato 2 bahasa bersama temanku yang lainnya. Tak terlalu gerogi sebenarnya, namun cukup memacu jantung beritme cepat karena harus berdiri, berpidato dihadapan banyak orang yang belum ku kenal sebelumnya.
Rasanya entah seperti apa, yang jelas saat itu nano-nano. Berdiri diatas panggung, mengucapkan kalimat-kalimat yang berisi seruan-seruan untuk kebaikan. Saat itu aku mengambil tema berbakti kepada orangtua, sekaligus untuk menyemangati kawan seperjuanganku yang mulai berpisah dengan orangtuanya. Di MBS Pleretlah wujud bakti mereka. Mereka termasuk aku harus berjuang dan berjihad menuntut ilmu sebaik-baiknya demi mewujudkan harap demi harap orangtua yang telah rela melepaskan anaknya.
Pidato berdurasi sekitar 10 menit itu akhirnya selesai juga, dan perasaanku lega.
Setelah acara dibuka dengan pidato, barulah acara peresmian PPM MBS Pleret dimulai.
Acara yang akhirnya telah menemukan ujungnya. Tinggallah kita yang berfoto ria bersama Musyrifah kesayangan. Saat itu kita punya 2 Musyrifah yang tak akan terlupakan sepanjang kita berada di MBS, Ustadzah Armi dan Ustadzah Kurni. Merekalah yang berjuang kerasa bersama kita para angkatan pertama untuk memajukan MBS Pleret agar selalu ''Excellent and Qur'anic''. Ustadzah Armi yang bersifat keibuan dan selalu memberikan kasih sayang ketulusan untuk kita semua. Ustadzah Kurni yang unyu-unyu tapi berilmu. Karena merekalah, akhirnya aku dan teman-temanku dapat bertahan di MBS.
Ustadzah Armi selalu mengajarkan kita banyak pelajaran yang sarat akan makna. Jika kita menyimpang tak segan beliau memberikan hukuman bagi kita yang memang melakukan kesalahan. Ustadzah Kurni yang juga tak pernah berhenti untuk sabar mendampingi kita hafalan walau setiap paginya kita lesu dan tertidur setiap Uztadzah Kurni mendampingi kita untuk Tahfidz dan Tahsin.
Inilah foto kebersamaan kita setelah berlangsungnya hukuman di depan halaman Masjid Taqorrub Kanggotan. Kita yang bersama-sama di siram air, malah justru tertawa bahagia bersama. Bermain-main air dan tak mengingat bahwa kita sebenarnya sedang dihukum. Foto kita yang masih unyu-unyu,masih kecil-kecil, masih bisa dibilang polos. Tertawa tanpa beban, tertawa penuh kesenagan.
Kita juga berusaha untuk memberikan yang terbaik dari yang paling baik untuk MBS. Selalu yang terbaik.
Setelah berlalunya kemah ceria di MBS Pleret yang bertempat di daerah Sleman, kita mulai menghadapi ujian dan bersiap untuk menaiki jenjang ke kelas 2.
Di kelas 2lah, kita baru merasakan berbagai macam permasalahan yang cukup membuat kita tidak merasa nyaman, namun juga tetap dengan kebahagiaan. Di kelas 2 kita kehilangan Mutiara dan Amira karena memang mereka harus keluar dan tidak dapat lagi melanjutkan perjuangan  bersama kita di MBS. Di kelas 2 juga kita kehilangan Ustadzah Armi yang harus mengurus keluarga kecilnya, juga Ustadzah Kurni yang beralasan harus segera menyelesaikan studynya.
Sama halnya kita harus memulai semuanya dari awal. Kembali beradaptasi dengan orang-orang baru. Suka tak suka itulah yang terjadi. Disaat itulah kutemukan titik jenuh dan selalu merasa ingin untuk tidak melanjutkan perjuanganku di MBS, namun setelah kupikir ulang, perpisahan bersama mereka harusnya menjadi semangatku. Semangat untuk terus maju dan meninggalkan keterpurukan yang ada. Mulai kembali menata hati dan selalu berprasangka baik, bahwa sejatinya Allah sedang merangkai cerita Indah diatas sana.
Kubuktikan dengan terus berprestasi, menjuarai beberapa kejuaraan pada cabang Pidato dan Debat, bahkan sebagai Pembicara Terbaik adalah hal yang tak terlupakan. Tak lupa juga untuk menerapkan pelajaran dari Ustadzah Armi yang dulu sempat mengajariku tentang hal medis, dan akhirnya aku dapat menjadi Duta Santri Sehat untuk seluruh pesantren di Kab. Bantul, bahkan menjadi juara 1. Semuanya tak terlupakan. Dari mereka aku belajar untuk tidak terus menerus terpuruk dalam suatu permasalahan.
Di kleas 2 ini pula, kita ABRIDOR SCHEIN, terbentuk. Saat itulah kita mulai menyikapi masalah demi masalah bersama-sama. Mulai saling menguatkan dan dikuatkan. Semangat kita membara seperti Api neraka yang tak akan pernah padam. Bersama Abridor Schein yang berarti Cahaya Pembuka, kita memulai sepenggal demi sepenggal kisah yang tak akan pernah terlupakan.  Kita sedang menanti untuk menuju kesuksesan. Dengan penuh keterbatasan, walau terkadang seperti layaknya kelinic percobaan, tapi tak apa, itu bentuk sebuah pengalaman. Menghias kelas bersama-sama, bahu-membahu. Walau nanti kelas itu juga tidak akan terpakai oleh kita, namun menghiasnya itu merupakan kenangan terbaik kita. Kelas terindah kita.
Di kelas 2, Group HW Arumdalu yang merupakan Groupku kembali berjaya ketika Kemah Bakti yang juga di daerah Sleman. Kita semua tertawa dan bahagia bersama. Walau dalam genangan banjir yang membuat kemah sedikit kacau namun itu tak akan mengurangi keceriaan yang kita rasakan. Memasak bersama, berkejar-kejaran dengan monyet, dan masih banyak lagi.


Beberapa cuplik foto kebersamaan kita. Hingga setelah kemah kita mengahadapi ujian dan liburan setelah itu jenjang yang lebih tinggi siap menanti.
Kelas 3 sudah di depan mata. Ujian akhir untuk penentuan kelulusan kita juga sudah mulai dipersiapkan. Setiap harinya kita berjuang les, dan belajar, belajar dan terus belajar tanpa mengenal lelah.
Bersama guru pembimbing UN, Ustad Wahyu, Ustadzah Erna, Ustadzah Wiwin, Ustadzah Lokana, Ustadzah Aulia, Ustadzah Padmi, Ustadzah Yusi dan Ustad Nurwanto.
Terimakasih untuk semua segenap Ustad dan Ustadzah yang telah memberikan kita banyak ilmu dan pengalaman yang tak kan pernah terlupakan.
Permohonan maaf juga tak lupa untuk selalu terucapkan, karena kita terlalu sering merengek, menyepelekan, tertidur di kelas, menjengkelkan, merepotkan, melelahkan, dan lainnya. Terkadang juga kita sering berucap dan bertingkah laku yang tak sengaja melukai perasaan Ustad dan Ustadzah.
Menikmati waktu demi waktu yang begitu cepat untuk berlalu. Seperti baru awal namun tak terasa beranjak akhir. Ujung yang sebenarnya tak ingin menemuinya, namun kita harus ingat bahwa itu adalah bagian dari sebuah proses. Terus memulai dan melanjutkan sepenggal yang masih panjang.
Bersama sepenggal kisah pesantren yang sangat berwarna ini.
Seragam biru-putih yang selalu Indah,
walau Putih telah menjadi kuning,
dan, walau biru telah menjadi usang.
Namun bersama seragam itu masa indah yang sungguh membahagiakan. Menjalani semuanya dengan intesnitas yang tak terduga-duga.
Selalu bahagia,
Cahay pembuka yang membuka jalan kesuksesan untuk pesantren yang tak terlupakan. Sepenggal kisah di Pesantren yang sempurna dengan kebahagiaannya...
Untuk Abridor Schein, semangat untuk Ujian Akhir kita, berikan yang terbaik untuk semuanya. Buktikan kita memang sebagai Cahaya Pembuka yang selalu bersinar dan terus bersinar...
We are Abridor Schein, firts Generation,
We can mumtazah and We can dominate The World...
ALLAHU AKBAR
Fire..Fire...



Komentar

Postingan Populer