Rindu
Rindu itu curang, mengenal bertambah namun tak kenal berkurang..."
.
.
.
.
Rindu seperti angin, berhembus maka akan berhembus. Membuat setiap orang merasai kehadirannya. Namun hanya sedikit yang mendengar rindu dendam ini. Biarkan semua orang mengetahui tentang rindu ini. Namun hanya sedikit yang akan menginsafi kehadirannya.
Rindu seperti air,mengalir dan terus mengalir. Membawa kesejukan bagi yang menggunakannya. Biarkan segala yang terhuyung akan segera sadar akan segarnya. Namun hanya sedikit yang akan memaknainya. Biarkan semua yang gersang menjadi basah dibuatnya. Namun hanya sedikit yang akan memahaminya.
Rindu seperti api, membakar segala yang dapat dibakar. Menyebabkan bara yang akan membakar segala isi didalamnya. Namun ada satu yang tak dapat di sentuhnya. Bara yang akan melepas segala yang mengikat. Namun satu yang tidak dapat dilepas.
Rindu seperti tanah, diam, diam dan diam. Hanya dapat menjadi saksi bisu. Bahkan tak akan dapat berbicara. Tak kuasa melihat kesedihan, ingin selalu menciptakan kebahagiaan, walau tak akan ada yang melihatnya. Selalu dibawah namun sejatinya yang paling penting.
.
.
.
Rindu yang tak tahu diri, sudah datang namun enggan untuk pergi, tak tahu bahwa tuan rumah tak mengharap kehadirannya
.
.
.
.
Rindu seperti angin, berhembus maka akan berhembus. Membuat setiap orang merasai kehadirannya. Namun hanya sedikit yang mendengar rindu dendam ini. Biarkan semua orang mengetahui tentang rindu ini. Namun hanya sedikit yang akan menginsafi kehadirannya.
Rindu seperti air,mengalir dan terus mengalir. Membawa kesejukan bagi yang menggunakannya. Biarkan segala yang terhuyung akan segera sadar akan segarnya. Namun hanya sedikit yang akan memaknainya. Biarkan semua yang gersang menjadi basah dibuatnya. Namun hanya sedikit yang akan memahaminya.
Rindu seperti api, membakar segala yang dapat dibakar. Menyebabkan bara yang akan membakar segala isi didalamnya. Namun ada satu yang tak dapat di sentuhnya. Bara yang akan melepas segala yang mengikat. Namun satu yang tidak dapat dilepas.
Rindu seperti tanah, diam, diam dan diam. Hanya dapat menjadi saksi bisu. Bahkan tak akan dapat berbicara. Tak kuasa melihat kesedihan, ingin selalu menciptakan kebahagiaan, walau tak akan ada yang melihatnya. Selalu dibawah namun sejatinya yang paling penting.
.
.
.
Rindu yang tak tahu diri, sudah datang namun enggan untuk pergi, tak tahu bahwa tuan rumah tak mengharap kehadirannya
Komentar
Posting Komentar