BERLITERASI DALAM KEMAJUAN TEKNOLOGI TANPA KEHILANGAN JATI DIRI


BERLITERASI DALAM KEMAJUAN TEKNOLOGI TANPA KEHILANGAN JATI DIRI
(Oleh : Ananda Novia Puspitaningrum)
 Image result for literasi

PENDAHULUAN
Ciri khas tokoh-tokoh intelektual baik yang berasal dari Barat atau yang muslim adalah gemar membaca berbagai literatur dan pasti mempunyai peninggalan berupa karya tulis. Terbukti dalam khazanah Islam dengan adanya para ahli ilmu yang disebut ulama. Mereka adalah para tokoh intelektual yang membuat karya yang sering kita sebut Kitab. Tujuannya adalah supaya generasi setelah mereka mampu mempelajari keilmuan yang diajarkan oleh gurunya meskipun sang masterpiece sudah tiada. Deretan nama-nama ulama terkemuka seperti Imam Malik yang ahli hadits menulis Kitab al-Muwaththa’, Ibnu Khaldun empunya sosiologi menulis Kitab Muqadimah, Imam al-Mawardi menulis Kitab al-Ahkam as-Sulthaniyyah, Imam Ghazali menulis Kitab Ihya Ulumuddin, pencetus maqashid syari’ah Imam Syatibi menulis Kitab al-Muwafaqat, hingga ulama sekaliber Imam Syafi’i pun juga mempunyai warisan yaitu Kitab ar-Risalah dan Kitab al-‘Umm. Selain dalam tradisi turats tersebut, umat Islam juga mempunyai tokoh-tokoh intelektual di bidang pengetahuan seperti Ibnu Rusyd, al-Kindi, al-Khawarizmi, al-Biruni, Jabir bin Hayyan, dan lain sebagainya.

Menjadi bukti sejarah, meski para ulama hidup ditengah-tengah kekurangan tetapi semangat literasi mereka tak perlu diragukan. Konsep Iqra’ (bacalah) yang termaktub dalam Surat al-‘Alaq adalah pionir utama yang menggerakan umat Islam untuk mengajarkan ilmu yang dimilikinya. Ketersambungan ilmu dari Rasulullah saw dijaga oleh murid-muridnya dari generasi sahabat, tabi’in, hingga seterusnya.  Maka tidak mengherankan jika peradaban Islam pada masanya pernah mendominasi kehidupan manusia, sebelum akhirnya peradaban Islam pada abad 19 tergantikan oleh hegemoni budaya Barat yang lebih mengedepankan ilmu pengetahuan (logos). Masa Renaissance (Era Pencerahan) pada abad 16 kemudian memunculkan semangat orang-orang Barat untuk mengembalikan kembali kejayaannya.

Di era kontemporer, Alvin Toffler seorang guru besar dalam bidang futurologi melalui karyanya Future Shock The Third Wave (1970: 14) mengatakan bahwa umat manusia akan mengalami tiga masa mulai dari era pertanian yang disebut sebagai gelombang pertama antara 800 SM-1500 M. Pada masa ini kehidupan manusia dicirikan dengan aktifitas yang berpindah-pindah tempat (nomaden) untuk berburu dan mencari sumber makanan di alam bebas. Kemudian masuk ke era industri dimana pada era ini ditemukan berbagai macam alat produksi untuk memudahkan pekerjaan manusia seperti mesin uap, kendaraan bermotor, dan bola lampu. Gelombang kedua ini berlangsung antara tahun 1500-1970 M. Gelombang ketiga terjadi pada 1970-2000 M dimana era teknologi berkembang begitu pesatnya melewati batas ruang dan waktu. Pada masa ini terjadi besar-besaran transfer ilmu pengetahuan melalui berbagai macam alat-alat elektronik seperti komputer, laptop, handphone, dan lain-lain.

Seiring majunya peradaban zaman, generasi muda menjadi kelompok yang tak mungkin bisa dilepaskan dengan kemajuan teknologi. Generasi muda seharusnya tidak gagap dengan kemajuan zaman supaya mereka dapat menikmati manfaat dari barang-barang elektronik yang dimilikinya. Jika anak muda bangsa lain memanfaatkan teknologi untuk menciptakan karya-karya yang berguna untuk menunjang kehidupannya, hal itu nampaknya sulit ditemukan pada jatidiri anak muda Indonesia saat ini. Belum lama jagad dunia maya tanah air dihebohkan dengan aplikasi yang mengundang kecaman keras dari para orang tua karena kontennya yang justru membuat anak-anak muda makin kehilangan adab dan sopan santun ketimurannya. Padahal keberlangsungan sebuah peradaban manusia berkaitan erat dengan moralitas dan karakter manusianya. Bung Hatta pernah mengingatkan jika “kurang cerdas bisa diatasi dengan belajar, kurang pengalaman bisa dilatih, tapi kalau kurang jujur sudah tidak bisa diapa-apakan”.
Rumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan pendahuluan di atas, penulis akan mengajukan pertanyaan yang nantinya dapat membantu menjawab permasalahan dalam esai ini, yaitu:
1.   Apa definisi budaya literasi?
2.   Mengapa minat budaya literasi di kalangan generasi muda Indonesia rendah?
Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui perkembangan peradaban manusia di bidang literasi.
2.      Menyuguhkan data terkait permasalahan rendahnya budaya literasi pada generasi muda Indonesia.
3.      Memberikan solusi atau jalan keluar untuk mengentaskan permasalahan rendahnya budaya literasi pada generasi muda Indonesia.


PEMBAHASAN
a)         Kemajuan teknologi, antara maslahat atau mudharat
Dengan satu kali klik, manusia sekarang dapat mengetahui segala macam kondisi yang terjadi dimana saja. Dalam hitungan detik pula sesuatu yang terjadi nun jauh disana bisa diketahui dengan cepat. Tak perlu buang waktu berlama-lama untuk membaca buku yang tebal halamannya, serta tak harus keluar banyak uang untuk membeli buku, cukup dengan gadget semua macam buku yang berbentuk elektronik bisa tersimpan di dalamnya. Idiom yang menyebutkan bahwa “buku adalah jendela dunia” seakan-akan sudah kehilangan gaungnya.

Anak muda zaman milenial kondisnya jauh berbeda dengan generasi yang lahir sebelum tahun 90-an. Generasi tua masih merasakan begitu syahdunya mencari buku dan sumber-sumber pustaka lainnya di perpustakaan, namun itu pun belum tentu ada sehingga mereka harus rela pulang pergi dari satu perpustakaan ke perpustakaan lainnya demi mendapatkan sebuah buku. Jika diberikan pilihan antara buku, kalkulator, atau gadget, anak muda zaman sekarang pasti lebih memilih benda yang praktis untuk dibawa kemana saja. Buku-buku, kitab agama, alat menghitung, semua dapat tersedia di dalam gadget.

Kecanduan piranti elektronik (gadgetholic) melanda penggemarnya yang berusia antara 10-35 tahun. (Jawa Pos, 2017). Efek buruk dari kecanduan dapat membuat si penderita menjadi antisosial, pasif, dan masa bodoh dengan lingkungan disekitarnya. Kehebatan teknologi nyatanya malah berbanding terbalik dengan kehidupan generasi muda. Mereka lebih takut disebut sebagai ‘kutu buku’ ketimbang ‘kudet’ atau kurang update. Mereka lebih takut tidak punya smartphone daripada tidak punya buku.

Beberapa penelitian terkait budaya literasi dapat menjadi gambaran bagaimana lemahnya animo generasi muda untuk membaca, menulis, menghitung, dan berbicara. Menurut penelitian, kondisi literasi di Indonesia menunjukkan skala yang rendah. Dikutip dari The Jakarta Post pada 12 Maret 2016, penelitian literasi yang dilakukan oleh Central Connecticut State University di New Britain Amerika Serikat, menempatkan lima negara pada posisi terbaik yaitu Finlandia, Norwegia, Islandia, Denmark, dan Swedia. Sedangkan posisi Indonesia hanya setingkat lebih tinggi dari Bostwana.

Selanjutnya data hasil penelitian Association for the Educational Achievement, mencatat bahwa pada tahun 1922 Finlandia dan Jepang sudah termasuk negara dengan tingkat membaca tertinggi di dunia. Dapat dibuktikan bagaimana keadaan negaranya, pendidikannya, dan kemajuannya yang terus bertumbuh pesat hingga saat ini. Sedangkan Indonesia, dari 30 negara, menduduki peringkat dua dari bawah (Kompas, 2018). Bahkan hasil sensus Badan Pusat Statistik (BPS), menunjukkan sebuah data yang mengejutkan, pada tahun 2006, (85.9 %) masyarakat Indonesia memilih menonton televisi, (40.3%) memilih mendengarkan radio dan hanya sekitar (23.5%) memilih membaca koran (Paud Dikmas, 2016).

Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2015 mengungkapkan fakta tentang kemampuan membaca setiap peserta didik. Posisi Indonesia berada pada urutan ke-69 dari 76 negara yang disurvei. Urutan tersebut berada jauh dari posisi Vietnam yang berada di urutan ke-12 dari total negara yang disurvei (The Jakarta Post, 2016).
b)           Memasyarakatkan literasi, meliterasikan masyarakat
Pada era globalisasi seperti yang kita alami saat ini, kemampuan berliterasi sangat diperlukan untuk mengarungi peradaban dunia yang gerbang utamanya adalah bahasa. Bahasa mampu meretas batas demografis dan geografis. Inggris, Mandarin, dan Arab adalah tiga bahasa internasional yang populer digunakan untuk berinteraksi antarmanusia.

Indonesia merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman bahasa. Setiap provinsi memiliki puluhan bahasa daerah yang menjadi warisan masyarakat lokal. Dengan kelebihan heritage yang dimilikinya, menjadi tantangan besar untuk merubah dan membiasakan pola pikir masyarakat Indonesia dari meninggalkan tradisi lisan (orality) menuju tradisi baca tulis (literacy) (Suroso, 11:2007). Kata literasi mungkin tidak asing terdengar di telinga kebanyakan orang Indonesia, namun praktiknya masih kerap ditemui terutama di wilayah pelosok masyarakat yang masih mengalami buta huruf. PR besar bagi kita semua untuk membantu pemerintah mengurangi angka buta huruf karena ini merupakan amanat konstitusi yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

Kern (2000) menyatakan dalam sumbernya, bahwa “literacy involves communication” (literasi melibatkan komunikasi). Kata-kata yang dinyatakan oleh Kern dapat dijabarkan, bahwa literasi mencakup dua hal, yaitu kewicaraan dan keaksaraan. Keduanya merupakan bagian dari budaya berkomunikasi antara satu sama lain dalam upaya mencapai tujuan-tujuan hidup. Maka dari itu literasi memiliki korelasi penting dalam konteks bahasa dan seperti apa bahasa itu dapat digunakan.

Setelah mengetahui makna literasi, hal yang perlu diketahui selanjutnya adalah makna dari budaya literasi. Dikutip dari Ane Permatasari dalam Membangun Kualitas Bangsa dengan Budaya Literasi (2015: 148), budaya literasi dapat diartikan sebagai sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia. Dalam bahasa kekinian, budaya literasi sendiri memiliki makna budaya yang dapat mengantarkan pengikutnya untuk melek teknologi, politik, berpikiran kritis, peka terhadap lingkungan, dan memiliki intelektualitas yang tinggi.
Untuk membangun dan memasyarakatkan budaya literasi secara komprehensif, terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan diantaranya; pertama, mengubah habitual action atau kebiasaan yang salah. Hal tersebut dapat dilakukan dengan mengikuti berbagai kegiatan positif yang akan membawa generasi muda pada habitual action yang benar. Penerapan konsep habitual action yang benar, saat ini sudah diterapkan langsung oleh sekolah-sekolah berbasis pondok pesantren di Indonesia. Melalui pola-pola yang diterapkan oleh pondok pesantren akan membawa dampak baik untuk budaya literasi dikarenakan peserta didik diwajibkan untuk menjunjung tinggi adab terhadap buku, yang merupakan sumber ilmu.
Kedua, menumbuhkan minat baca sejak usia dini. Dengan budaya literasi, membaca, menulis, berdiskusi, dan lainnya, akan memperkaya wawasan dan menajamkan pola pikir peserta didik. Ketiga, memanfaatkan peran perpustakaan yang tersedia. Sekolah dan perguruan tinggi yang sudah memiliki perpustakaan, hendaknya mengoptimalkan peran dan fungsi perpustakaan dengan menggiatkan kegiatan-kegiatan eksternal seperti lomba pustaka, seminar, donasi buku, dan lainnya.
Keempat, mengikuti komunitas atau organisasi yang konsen di bidang literasi yang manfaatnya dapat membuat anggota-anggotanya makin dekat dengan budaya literasi seperti membaca buku, membuat karya tulis, dan berdiskusi. Kelima, subsidi buku yang merata di seluruh wilayah Indonesia. Sebagai negara berkembang yang mengejar ketertinggalan di berbagai sektor, Indonesia perlu untuk mengusahakan hal tersebut sebagai upaya pemerataan pendidikan. Keenam, memberikan reward bagi para aktivis pegiat literasi. Ketimpangan antara jumlah peserta didik dengan yang pendidik, serta terbatasnya waktu belajar di sekolah, kemudian memunculkan semangat bagi sekolompok masyarakat untuk mendermakan tenaga dan ilmunya membantu pemerintah dalam mencerdaskan anak bangsa. Mereka lantas mendirikan taman bacaan masyarakat (TBM). Setidaknya pemerintah memberikan dukungan materiil kepada kelompok pegiat literasi supaya jerih payah mereka tidak sia-sia.
Budaya literasi bangsa Indonesia harus bangkit, kita dapat memulainya dari hal-hal yang sederhana. Sejak saat ini melatih diri untuk membiasakan menulis dari yang sederhana, kemudian berlanjut ke tulisan-tulisan yang lebih panjang dan berbobot, sehingga dapat menurunkan warisan berharga berupa pemikiran yang brilian dan mendokumentasikannya sebagai bukti sejarah. Dengan menulis, kita akan memiliki kehidupan yang lebih panjang, karena tulisan-tulisan yang dihasilkan akan membuat penulisnya terkenang sepanjang masa.
KESIMPULAN
Kemampuan berliterasi bukanlah seperti mukjizat yang hanya dimiliki oleh orang-orang terpilih. Kemampuan berliterasi tidak bisa datang dengan tiba-tiba. Menghitung, menulis, membaca, berbicara, dan memecahkan masalah adalah kemampuan dasar yang didapat ketika mengenyam pendidikan baik secara formal maupun informal. Kemampuan-kemampuan tersebut akan semakin terasah dan terbentuk jika mau mengembangkan seluruh potensi yang ada dalam diri kita.
Mohammad Hatta pernah berkata, “aku rela di penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas”. Sahabat karib Bung Hatta yaitu Soekarno dan Soetan Sjahrir adalah deretan para founding fathers yang doyan melahap bermacam-macam buku. Kemana saja mereka pergi termasuk dalam kondisi genting saat diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda pasti ada satu koper yang isinya buku bacaan. Mereka juga memiliki kemampuan menulis sehingga banyak karya yang dihasilkan seperti Demokrasi Kita karangan Hatta, Dibawah Bendera Revolusi karangan Soekarno, dan Perjuangan Kita karya Sjahrir. Kemampuan menulis dan membaca yang dimiliki oleh para pendiri bangsa Indonesia mampu menjadikan mereka singa-singa podium ketika berpidato dihadapan khalayak ramai.
Kata Alvin Toffler, mereka yang disebut buta huruf (illiterate) di abad 21 bukanlah orang-orang yang tidak bisa membaca dan menulis, namun mereka yang tidak bisa belajar (learn) menanggalkan pelajaran sebelumnya (un-learn) dan belajar kembali (re-learn). Peningkatan kualitas dan kuantitas diri setiap insan manusia diperlukan supaya tercipta jalan menuju peradaban yang lebih maju sehingga budaya literasi tidak sekadar menjadi tagline semata yang menghiasi dinding sekolahan dan perguruan tinggi. “Belajar di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu, belajar di waktu tua bagaikan mengukir di atas air”.


 DAFTAR PUSTAKA

Enggar, Yohanes. 2018. Penting Literasi Media untuk Generasi Milenial. Diunduh pada 30 Juli 2018 dari https://edukasi.kompas.com/read/2018/07/24/18202431/penting-literasi-media-untuk-orangtua-generasi-milenial.

Gerakan Indonesia Membaca: “Menumbuhkan Budaya Membaca”. 2016. Diunduh pada 28 Juli 2018 dari https://www.paud-dikmas.kemdikbud.go.id/berita/8459.html.

Gunawan, Arif. 2016. Indonesia second least literate of 61 nations. Diunduh pada 28 Juli 2018 dari http://www.thejakartapost.com/news/2016/03/12/indonesia-second-least-literate-61-nations.html.

Jawa Pos. 2017. Andika Yunanto, Praktisi Psikologi Teknologi Informasi yang Kebanjiran Pasien. Diunduh pada 29 Juli 2018 dari https://www.jawapos.com/index.php/features/19/04/2017/andika-yunianto-praktisi-psikologi-teknologi-informasi-yang-kebanjiran-pasien.

Kern, R. 2000. Literacy and Language Teaching. Oxford: Oxford University Press.

Permatasari, Ane. 2015. Membangun Kualitas Bangsa dengan Budaya Literasi. Diakses pada 25 Juli 2018 dari http://repository.unib.ac.id/11120/1/15-Ane%20Permatasari.pdf.

Suroso. 2007. Panduan Menulis Artikel dan Jurnal. Yogyakarta: Elmatera Publishing.

Syahriyani, Alfi. 2010. Optimalisasi Budaya Literasi Di Kalangan Mahasiswa: Upaya Meretas Komunikasi Global. Jurnal UI Untuk Bangsa Seri Sosial dan Humaniora Vol.1 (Hal 67-78) https://uiuntukbangsa.files.wordpress.com/2011/06/optimalisasi-budaya-literasi-di-kalangan-mahasiswa-upaya-meretas-komunikasi-global-alfi-syahriyani.pdf.

Suwandi, Sarwiji.  2015. Peran Bahasa Indonesia dalam Pengembangan Budaya Literasi untuk Mewujudkan Bangsa yang Unggul dalam Konteks Masyarakat Ekonomi ASEAN.  Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia 2015. Universitas Sebelas Maret http://publikasi.stkipsiliwangi.ac.id/files/2016/01/Prosiding.pdf (Diunduh pada 22 Mei 2016).

The Jakarta Post. 2016. Indonesia's PISA results show need to use education resources more efficiently. Diakses pada 23 Juli 2018 dari http://www.thejakartapost.com/academia/2016/12/18/indonesias-pisa-results-show-need-to-use-education-resources-more-efficiently.html

Toffler, Alvin. 1970. Future Shock The Third Wave. United States: Bantam Books.







Komentar