Lomba Menulis Cerpen Karya Santri "Belenggu Suci diatas Langit Maryam"

BELENGGU SUCI DIATAS LANGIT MARYAM
karya : Ananda Novia Puspitaningrum
SMA Muhammadiyah Boarding School Pleret
 Apa bahagianya jiwa yang terpenjara? Seperti apa hakikat kesenangan bagi diri-diri yang terbelenggu? Bagaimana rasanya kesenangan yang terbatas? Maka akan kau temukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut dari seorang santri. Ia bisa melukiskan kebahagiaan dengan kesederhanaan, ia bisa terpenjara dengan jiwa yang penuh syukur, dan ia bisa senang dengan hati yang tentram nan damai dalam bingkai suci bernama Pesantren.   
 Sekeliling ruanganku tampak sepi. Kupandangi wajah jelita dalam bingkai yang kupajang diatas meja. Putriku satu-satunya yang saat ini jauh dari genggaman, namun dekat dalam do’a. Sungguh putriku yang akan tumbuh terhormat, tumbuh terdidik dan tumbuh sebagai perhiasan dunia yang mulia.
 Rindu ini menjalar. Menggetarkan seluruh jiwa. Terbayang senyumnya juga tangisnya dalam sekali kelebatan. Terkadang sebagai seorang Ibu, ada keinginan untuk membersamainya selalu, mengikuti jejak kehidupannya, dan mendengarkan segala keluh kesahnya, namun tidak untuk saat ini. Biarkan Ia berkelana mencari sesuatu yang sepatutnya Ia cari, biarkan Ia besar dengan pelajaran-pelajaran hidup yang berarti. Sungguh kutitipkan putriku pada sebuah Lembaga yang akan membawanya menjadi tabunganku diakhirat. Kusekolahkan dia pada sebuah tempat naung terbaik, Pesantren.
 Ponselku berdering. Satu nama yang kurindukan muncul dalam notifikasi panggilan. Rupanya saat ini jadwal telepon putriku tersayang. Ponsel yang dipakainya bergantian dengan teman-temannya membuatnya harus bersabar menanti giliran. Setiap hari Sabtu dan Ahad akan kuluangkan waktuku untuk menerima telepon darinya, sekedar mendengarkan ceritanya, atau menyapanya dan memastikan keadaannya. Aku tahu Ia juga pasti rindu.
 “Assalammualaikum Sayang. Apa kabar?” sapaku riang.
1,2,3, tidak ada jawaban. Ia diam. Ada apa dengannya? Batinku bertanya-tanya.
 “Assalammualaikum Sholihah. Apa kabar?” tanyaku lagi.
  “Wallaikumussalam Ibu, bantu Binar.” Jawabnya  bergetar menahan tangis. Perasaan resah dan gundah selalu datang saat Ia menelepon dalam keadaan menangis. Ia pasti sedang papa. Sedih mana kala raga ini tidak bisa memeluknya, mendekapnya, memberikan ketenangan, dan mendengarkan masalahnya. Apa yang menjadi skandal dalam hatinya hingga Ia harus menangis? Namun sebagai seorang Ibu, aku harus selalu tenang. Ia membutuhkan ujian-ujian kecil semacam ini agar Ia dewasa. Ini adalah waktuku untuk menunjukkan kehebatan seorang Ibu, bahwa meskipun jauh kita terpisah, selalu ada kasih sayang yang tidak akan terputus untuknya. Sungguh Ibu selalu bersamamu Nak.
 “Apa yang harus Ibu bantu?” tanyaku berusaha tenang. Ia diam sebentar. Aku tahu, Ia pasti sedang mencari tempat yang sepi untuk bercerita. Dibalik hiruk pikuk kehidupan asrama. Dan aku juga tahu, kemana tujuannya melangkahkan kaki. Tentunya tempat yang istimewa bagiku dan saat ini juga tempat yang istimewa baginya. Dibawah pohon mangga, balkon asrama Maryam.
 Lalu mengalirlah ceritanya begitu saja. Apapun yang Ia rasakan akupun turut merasakannya. Dijelaskannya pelan-pelan apa yang menjadi sebab muasalnya dia menangis. Ya, dan aku selalu setia mendengarkannya. Dan selalu siap memberikan solusi terbaik untuknya.
 “Binar, Ibu belum bisa berkomentar apa-apa. Tapi sebelumnya Binar mau nggak dengerin cerita Ibu?” tanyaku lembut padanya. Aku ingin melatihnya agar Ia bisa mengambil hikmah dalam setiap kisah. Itu sebabnya kubesarkan dia dengan kisah-kisah supaya Ia berfikir kesimpulan apa yang sepatutnya Ia ambil.
 “Iya Ibu.” Jawabnya singkat. Mungkin Ia lelah dan sedikit kesal. Namun cerita ini yang akan membesarkan hatinya. Sungguh dari cerita ini Ia akan bisa menyelesaikan masalahnya dengan caranya sendiri. Anakku, Ibu senantiasa berdo’a untuk kedewasaanmu. Semoga Yang Kuasa mempermudah.
 Setelah ini biarlah urusan ini menjadi kehendak-Nya. Aku sebagai seorang Ibu yang telah diberi amanah menjaganya, akan berusaha sebaik mungkin menjadi penawar lukanya.

***
20 tahun yang lalu. Tatkala asrama ini masih tertutup ilalang yang tinggi menghujam. Tersimpan rapat diantara bambu-bambu, dan terasingkan dalam sebuah kumpulan pepohonan rimbun. Terdapat peradaban tersembunyi yang menyembunyikan 25 sayap keindahan. Berharga mahal bak mutiara yang tersimpan di dalamnya lautan. Bidadari surga yang memenjarakan segala keinginannya hanya untuk menuntut ilmu bekal di masa depan. Ini adalah catatan, catatan yang menguraikan sejuta wajah. Catatan tentang betapa berharganya masa muda kami dulu disebuah tempat terpencil untuk sebuah mimpi yang besar. Dibawah naung tempat tersebut kami terbang jauh bersama mimpi menjemput masa depan kami saat ini.
“Sebagai seorang santri mahkota kita adalah sebuah Bahasa. Kita harus membiasakan diri kita untuk berbahasa.” Ucap Via sebagai seorang pemimpin. Teman-teman yang mendengarkan mengangguk-angguk setuju. “maka dari itu, sekeliling asrama Maryam ini harus dipenuhi dengan percakapan-percakapan berbahasa Arab dan berbahasa Inggris  agar kita semua terbiasa.” Tegas Via lagi. Dan mendapat anggukan dari teman-temannya tanda setuju. Selanjutnya pembahasan mereka berlanjut untuk mencari kosa kata- kosa kata yang akan mudah untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Bagian Bahasa mulai mencari percakapan-percakapan tersebut dalam sebuah kamus besar Berbahasa Arab dan berbahasa Inggris. Tentunya bagian bahasa lebih terlatih dalam hal tersebut dibandingkan siapapun diasrama tersebut.
**
Hari-hari cepat berlalu. Via terus menggalakkan kegiatan-kegiatan di asrama untuk terus meningkatkan dan mempelajari Bahasa. Via terus meminta bantuan Ustad dan Ustadzah untuk menggerakan pesantren ini menjadi pesantren berbahasa. Ada yang merespon positif dan tentunya ada yang merespon sebaliknya. Semuanya diterima Via sebagai sebuah masukan untuk meningkatkan semangatnya menjalankan Bahasa.
 Gayung memang tak selamanya bersambut. 2 minggu sudah terlewati. Semangat teman-teman untuk belajar Bahasa mulai turun. Bahkan satu-dua diantara yang lain mulai tidak konsisten. Ditambah dengan adanya pelanggaran yang mulai diterapkan membuat banyak teman-teman merasa terbebani. Lidah mereka kelu ketika harus menggunakan Bahasa. Terlebih Bahasa Arab, maknanyabanyak dan sulit dimengerti itulah sebabnya sulit dilafalkan dalam sebuah percakapan.
 “Via, Ana perlu bicara sama Anti.” Ucap Ira selaku bagian Bahasa. Via mengagguk. “na’am.” Balas Via. Kosa kata yang mereka lakukan memang masih sangat dasar. Membiasakan menggunakan dhomir untuk disisipkan dalam percakapan-percakapan sehari-hari.
 Afwan, Ana pakai Bahasa Indonesia ya.” Ucap Ira. Via mengangguk, tersenyum. “Anti sudah berusaha.” Balas Via. “Sepertinya teman-teman merasa bosan dan sulit ketika harus menggunakan Bahasa. Satu minggu Bahasa Inggris sudah dilalui. Mereka masih memiliki semangat, tapi masuk minggu ke-dua saat menggunakan Bahasa Arab, teman-teman merasa kesulitan. Dan banyak diantara mereka mengeluh.” Ucap Ira. Via terdiam.
 “Ya kita memang harus menerima segala kemungkinan. Dari awal memang kita sudah diperingatkan oleh ustad dan ustadzah bahwasannya pesantren kita itu pesantren berbasis agama, memfokuskan kita untuk belajar tentang ilmu-ilmu agama, menghafal hadist, menghafal Al-Qur’an dan memuroja’ahnya, ditambah dengan pelajaran Fiqh, Aqidah, Tafsir dan lain sebagainya. Berbahasa memang sulit  dan hanya akan menambah kesibukan kita selain belajar agama. Tapi percaya deh, Bahasa itu penting. Kita mikirnya tu nggak satu atau dua tahun kedepan, Tapi sekian tahun yang akan datang. Zaman akan semakin berkemajuan dan Bahasa tidak lagi hanya akan menjadi mahkota di pesantren, melainkan mahkota dunia.” Ucap Via.
“Kita usaha aja dulu, Terus ikhtiar, Nanti aku berpikir lagi gimana caranya Bahasa jadi mudah dan menyenangkan.” Tambah Via. Ira mengangguk. “Semangat ya Via.” Ucap Ira. Via tersenyum mengucapkan terimakasih.
 Malam kelam dipenuhi gemerlap bintang dan bulan. Ya, nama asrama terpencil ini adalah asrama Maryam. Entah takdir langit akan mengungkap tabirnya seperti apa dan bagaimana. Sebab rahasia takdir terhadap asrama Maryam ini akan mengantarkan 25 kepak sayap keindahan menuju bahtera masa depan yang gemilang atau sebaliknya.
 Sempurna. Purnama bulat penuh seakan menyinari. Cahayanya jatuh tepat menerpa wajah seorang gadis yang sedang merangkaikan mimpi. Kata-kata yang dituliskannya menggambarkan suasana hatinya yang sesak akan mimpi-mimpi.
 Pohon mangga yang tumbuh subur disampingnya menghijau dengan rimbun. Begitupula dengan pohon-pohon disekitarnya yang tampak begitu menjulang. Menghadirkan suasana malam yang penuh angin semilir. Menemaninya menulis harapan-harapan tak terkatakan. Ia sibuk membisu pada selembar kertas dan sebuah pena yang menari-nari diatasnya. Mungkin kertas lebih banyak mengerti dan menerima segala curahan hatinya. Atul lewat dengan bersenandung kecil. Ia menyebutkan kosa kata dalam Bahasa Arab namun didendangkannya menjadi sebuah alunan yang lucu namun mudah untuk dikenali. Via tersenyum. Sungguh tersenyum penuh arti. Allah sungguh baik membukakan jalan-Nya. Semoga ini kemudahan yang diberikannya. Lewat Atul yang tanpa sengaja menyanyi dengan riangnya.
**
 Menyanyi. Itu yang saat ini sedang ditekuni Via dan bagian Bahasa. Mereka sibuk merangkai-rangkai kata demi kata menjadi susunan-susunan yang mudah untuk dinyanyikan. Dibantu dengan Atul yang menjadi sumber inspirasi Via pertama kali. Beberapa kali ada nada yang sumbang jika liriknya diganti dengan Bahasa Arab maupun Bahasa Inggris, namun mereka terus mencoba dan mencoba dengan semangat.
 Kegiatan yang mereka lakukan memakan waktu berhari-hari. Banyak kosa kata yang akhirnya cocok jika dinyanyikan dengan nada-nada lagu. Via dan tim merasa puas dengan kerjasama yang mereka bangun. Via percaya bahwasannya usaha yang baik akan menghasilkan hasil yang baik pula.
 Setelah menunggu sekian lama, dengan keadaan Bahasa yang tidak mengalami kemajuan bahkan dirasa nihil untuk dilanjutkan, Via merasa tetap optimis. Siang itu Via menemui ustad Fatkhur untuk menyampaikan gagasannya.
 “Assalammualaikum ustad.” Via menyapa Ustadnya sopan. Ustad Fatkhur yang sedang membaca menjawab salam dari Via. “Wallaikummussalam Via, ada apa?” jawabnya berwibawa. “Begini ustad, langsung saja, saya dan beberapa teman-teman memiliki gagasan untuk menciptakan pesantren kita ini pesantren berbahasa. Kami memiliki harapan besar, dengan Bahasa kita akan lebih mudah untuk bergerak menuju pesantren yang modern. Dan dengan Bahasa pula, kita bisa lebih mudah untuk mencari kesempatan dan peluang-peluang yang lebih besar. Harapan dari kami, jika Bahasa bisa berjalan di pesantren ini, kita bisa sama-sama membuka peluang pesantren kita supaya lebih dikenal oleh kalangan masyarakat dan mendapatkan nilai tambahan yang baik.” Via membuka percakapannya dengan Ustad Fatkhur yang didengarkan dengan seksama.
 “gagasan Via dan teman-teman sangat bagus. Saya mendukung. Tapi apakah Via sudah memiliki langkah-langkah untuk berjalannya Bahasa tersebut dilingkungan kita ini?” tanyanya.
 Via mengangguk. “Sebenarnya jauh-jauh hari yang lalu, saya dan bagian Bahasa yang kami bentuk, sudah berusaha dengan berbagai macam cara Tad. Mulai dari menempelkan kosa kata, melakukan muhadatsah, membiasakan berbicara dengan dhomir dan lain sebagainya, namun respon teman-teman kurang tertarik. Dan tidak sedikit diantara mereka yang merasa keberatan jika Bahasa dijalankan ustad.” Jawab Via.
 “Lha terus Via kesini meminta saran atau bagaimana?” tanya Ustad Fatkhur lagi. “Kok kalau saya lihat sepertinya sudah mentok usahanya.” Wajah ketulusan seorang guru yang menyeringai.
 “Hehehe…kurang lebih seperti itu ustad. Tapi Via memiliki satu cara lagi. Nah sebelum Via terapkan, Via ingin meminta pendapat terlebih dahulu dari Ustad. Kira-kira bagaimana baiknya.”jawab Via.
 “seperti apa caranya?” tanya ustad Fatkhur dengan tersenyum. Via balik tersenyum. Ia akan menjelaskan.
“jadi begini ustad, saya dan teman-teman sudah bersepakat untuk menggunakan metode menyanyi dalam kegiatan bahasa ini. Dengan tujuan teman-teman bisa menerima dengan baik pelajaran bahasa tersebut. Beberapa hari yang lalu, kami sudah membuat beberapa daftar kosakata yang nyambung dengan nada lagu-lagu tertentu.” Ucap Via penuh antusias.
 Ustad Fatkhur diam mendengarkan.
 “selanjutnya tad, kami juga sudah mencoba menerapkannya pada diri kami sendiri, bahwasannya menghafal kosa kata dengan dinyanyikan itu lebih mudah. Pikiran kami bisa lebih menerima.” Tambah Via.
Ustad Fatkhur mengangguk lagi.
“Kira-kira bagaimana Tad?” Tanya Via bersemangat. Ustad Fatkhur cukup lama terdiam. Beberapa kali berkerut dan tampak berpikir. mengingat-ingat sesuatu.
 “Bahasa. Itu memang kunci untuk kita menguasai dunia. Jika Negara ingin maju, maka kuasailah bahasa. Itu ungkapan yang tidak salah. Dan kamu meng-implementasikannya dengan sangat baik Via. Saya setuju.”
 “semua cara yang kamu dan teman-temanmu lakukan bukan hal yang sia-sia. Sebab tidak ada kesia-siaan dalam melakukan kebaikan. Asalkan semua yang kamu usahakan, kamu niatkan untuk mendapatkan ridho-Nya. Maka semuanya akan diberkahi.”
 “Ide kamu bagus. Sebab Pesantren kita merupakan pesantren yang terus bergerak menuju kemajuan. Seperti Muhammadiyah yang terus berkemajuan, begitu pula pesantren kita harus melakukan gencatan-gencatan untuk terus berkemajuan. Meskipun kita tergolong pesantren kecil, tapi kita harus memiliki semangat yang besar untuk kemajuan pesantren ini.”
 “disatu sisi Ustad salut terhadap pemikiran kamu. Kamu memiliki pemikiran yang cerdas untuk membangkitkan semangat kemajuan dalam pesantren kita. Benar katamu, pesantren kita sebaiknya mulai melebarkan sayapnya pada bidang-bidang bahasa dan keilmuwan-keilmuwan lainnya agar tidak monoton.”
 “Via, kamu sangat menginspirasi.” Ucap Ustad Fatkhur panjang lebar.
 Via tersenyum puas. “Terimakasih Ustad. Ini tidak hanya gagasan saya saja, melainkan usulan teman-teman yang lain juga sangat mempengaruhi. Kita semua menyatukan pendapat kita. Meskipun tentunya ada satu atau dua yang tidak mendukung itu hal wajar. Kita bisa mencobanya pelan-pelan.” Balas Via. Ustad Fatkhur mengangguk dan berjalan mengambil sesuatu. “ini bisa membantu metode yang kamu rancang bersama teman-temanmu.” Ustad Fatkhur menarik sebuah buku dari rak buku yang berjejer rapi. buku yang sudah mulai usang, kertasnya sudah berwarna agak kekuningan.
 “Ini merupakan metode TAMYIZ, yang dulu Ustad pelajari dari guru Ustad. Ustad berpikir sebaiknya belum ustad sampaikan ke kalian terlebih dahulu, namun semangatmu yang luar biasa membuat saya pada akhirnya bersemangat pula untuk menjelaskan ini kepada kamu dan teman-temanmu yang lain.” Ustad Fatkhur menjelaskan. Via menyimak dengan sangat baik.
 “Metode Tamyiz merupakan metode pembelajaran yang mudah dan menyenangkan untuk kalian pemula. Materi (maddah) yang diajarkan dalam metode Tamyiz semuanya merupakan formulasi dari teori nahwu-sharaf yang banyak ditemui dan dipelajari dari pesantren-pesantren lainnya dan juga lembaga-lembaga khusus untuk mempelajari kajian-kajian bahasa Arab. Yang paling penting dalam metode Tamyiz adalah cara mengajarkannya (thoriqoh) yang bisa dipelajari oleh anak kecil. Singkatnya kalau anak kecil aja bisa gimana santri SMA seperti kalian.” terang Utad Fatkhur.
 Via mengagguk senang dan bersemangat mendengarkan penjelasan dari ustad Fatkhur. “Nanti kalian akan menghafalkan per-BABnya dengan lebih mudah karena kalian akan menyanyikannya.”
 “Mulai dari BAB Huruf, BAB Fi’il, dan BAB Isim, semuanya akan dipelajari dengan sangat menyenangkan. Bahkan kalian tidak akan merasa lelah karena harus bernyanyi terus menerus. Tapi perasaan kalian akan terus senang dan senang lalu ketagihan. Sehingga berbahasa akan menjadi lebih mudah.”
 “Nah nanti kita bisa memulainya dengan kosa kata-kosa kata yang mudah terlebih dahulu, lagu-lagu yang digunakan juga merupakan lagu-lagu yang familiar ditelinga kita dan tentunya kita terbiasa dengan lagu-lagu tersebut tetapi dengan lirik dan pemaknaan yang berbeda.”
 “Maaf ustad bisa kita coba metodenya?” Tanya Via dengan wajah yang cerah dan mata yang berbinar-binar. Ustad Fatkhur mengangguk.
 Ustad Fatkhur mempraktekkan dengan menunjukkan BAB AMR. Salah satu bagian yang berada dalam macam-macam Fi’il menunjukkan kata perintah. “Macam-macam AMR itu berakhiran EL-LAA-LUU-LII-LAA-NA. Coba kita nyanyikan dengan nada pelangi.” Ucap ustad Fatkhur. Via mencoba pelan-pelan mengikuti instruksi ustad Fatkhur. Dan ternyata memang benar, metode yang mereka terapkan mudah dipahami dan tidak berbelit-belit.
 Via mencoba 2 kali lagi untuk memastikan keseruannya belajar bahasa menggunakan metode tamyiz. Tentunya dengan sub-BAB yang berbeda dan dengan nyanyian yang berbeda-beda pula. Via mengikutinya dengan riang. Dan terus bersemangat. Dan benar saja, Ia tidak jenuh mempelajarinya. Semuanya tampak begitu menyenangkan. terlebih metode TAMYIZ ini tidak hanya mudah untuk mempelajari kosa kata berbahasa Arab, namun juga untuk tarjamah Al-qur'an, sehingga dengan metode unik ini santri bisa mendapatkan dua keuntungan.
 “ustad, mengapa metode TAMYIZ ini sangat menyenangkan?” Tanya Via riang. Ustad Fatkhur tersenyum. “Karena metode TAMYIZ ini menggunakan prinsip (Neuro Linguistic) atau mengajar dengan hati. Sehingga semuanya menjadi riang gembira.” Jawab Ustad Fatkhur cerah.
 “Kalau begitu atur waktu untuk memperlajari metode ini Via, saya sendiri yang akan mengajar santri-santri saya belajar bahasa.” Perintah Ustad Fatkhur yang langsung dilakukan Via dengan segera.
***
“Terus akhirnya pesantren Ibu jadi pesantren yang unggul dalam bahasa seperti saat ini?” tanyanya antusias. Terdengar dari suaranya tampak lebih baik dari sebelumnya.
 “ya seperti yang kamu rasakan saat ini. Pesantren yang tidak hanya unggul dalam bidang keilmuwan keagamaan, namun juga unggul dalam keilmuwan umum. Sekolah yang tidak hanya mengajarkan pelajaran sehari-hari namun juga pelajaran kehidupan. Tempat belajar yang tidak hanya membentuk karakter siswa yang berpendidikan namun juga karakter siswa yang akhlakul karimah.” Jawabku.
 “Ibu, Binar bangga dengan Ibu.” Ucapnya tulus. “Ibu lebih bangga dengan Binar apabila Binar bisa bersemangat untuk menjalankan bahasa disana. Semangat menuntut ilmu dan semangat untuk berusaha. Jangan takut sayang, Allah akan mempermudah urusan  bagi setiap hamba-Nya yang berusaha. Jangan sedih karena kalah dalam kompetisi Bahasa. Masih ada banyak kesempatan. Buktikan yang terbaik.” Balasku.
 “maafkan Binar Ibu, sebelum Binar tahu cerita tentang semangat Ibu menggerakkan Bahasa, dan metode-metode unik yang Ibu buat bersama teman-teman Ibu, Binar sempat meremehkan metode yang Ibu buat dan sudah menjadi turun temurun di pesantren ini. Menghafalkan dengan dinyanyikan itu ternyata lebih mudah tetapi Binar sombong, Binar merasa teori Binar yang paling benar.” Ucapnya bersalah.
 “Tidak papa sayang, tidak ada yang salah dalam proses belajar. Semuanya baik dan semuanya benar. Yang perlu kita tekankan dalam hati kita bahwa ketika kita menuntut ilmu janganlah kita merasa sombong. Janganlah kau berjalan dimuka bumi Allah ini dengan perasaan angkuh, sebab diri kita ini bukan siapa-siapa Nak.”
 “Saat ini Binar sudah tahukan caranya menyelesaikan masalah Binar? Kesimpulan apa yang Binar dapat ambil?” tanyaku padanya. Membesarkan hatinya.
 “Binar tidak akan berhenti sampai disini untuk terus belajar. Kalah dalam kompetisi Bahasa itu hal yang biasa. Sebab Allah selalu membuka kesempatan bagi hamba-Nya yang berusaha. Seperti Ibu yang berusaha untuk menghidupkan Bahasa di Pesantren tardisional hingga menjadi pesantren yang modern seperti saat ini. Seperti Ibu yang tidak pernah berputus asa untuk menuntut ilmu meskipun dahulu Ibu bahkan tidak bisa menikmati fasilitas Pendidikan seperti yang Binar rasakan saat ini. Dan, seperti Ibu yang luar biasa menginspirasi seluruh santri di pesantren yang saat ini jumlahnya ribuan dengan metode unik yang Ibu ciptakan.” Jelasnya panjang lebar. Semangatnya telah pulih. Lusa Ia harus menjadi jiwa-jiwa terhormat yang tidak mudah patah. Jadilah pejuang yang tidak patah dan menyerah Nak, sebab kamu adalah pemenang yang akan lahir dari rahim pesantren, bukan pecundang yang akan pulang sebab tak tahan dengan aneka godaan.
 “Hakekat kebahagiaan yang sebenarnya adalah ketika kita bisa bermanfaat bagi orang lain nak. Karena sebaik-baik seseorang adalah Ia yang berguna bagi sesamanya. Sebagai seorang santri, kamu menyandang amanah besar Nak. Kontribusi apa yang akan kamu berikan untuk pesantrenmu, kontribusi apa yang akan kamu berikan untuk bangsa, dan kontribusi apa yang akan tabung untuk akhirat kelak. Ingat nak, akhiratmu adalah akhirat ayah dan Ibu juga. Kamu tabungan kami, sebab itulah kami membesarkan kamu dibalik belenggu suci. Berdoalah Nak, sebab diatas langit Maryam akan selalu terbuka bagi para penuntut ilmu yang tekun sepertimu dan seperti teman-temanmu.” Balasku. Ia tertawa. Tawa kecil yang kurindukan. Kisah ini semoga terpatri dalam batinmu Nak. Jadilah jiwa pemberani, jadilah jiwa pemenang anakku sayang.
 Dia mengakhiri pembicaraan panjang kita dengan ucapan terimakasih dan ungkapan kasih sayang. Ia sungguh tidak merepotkan. Bahkan Ia hanya meminta dijenguk apabila Ia menang lomba saja. Untuk sekedar memperlihatkan piala dan medali yang Ia sumbang untuk pesantrennya. Ia sungguh putriku yang membanggakan. Sudah belasan prestasi yang Ia berikan untuk pesantrennya. Semoga semakin tinggi jiwanya berada, hatinya tetap membumi dengan baik. Selalu ada do’a yang Ia panjatkan untuk kemajuan pesantrennya, do’a khusus untuk guru-gurunya, dan do’a yang selalu Ia selipkan untuk teman-temannya. Aku tahu semua itu, sebab aku juga seperti dia dulu. Kita tak jauh berbeda.
 Putriku. Begitulah seorang yang besar dalam lingkungan bernama pesantren. Ia akan tumbuh menjadi perempuan yang cerdas. Bicaranya dakwah, pendengarannya tilawah, geraknya jihad fii sabilillah, hatinya penuh dzikir dan otaknya penuh pikir.
 Telah banyak jiwa-jiwa membanggakan yang terlahir dari rahim belenggu suci bernama pesantren. 25 sayap keindahan sebagai pembuka pertama zaman dahulu kala, kini telah tumbuh menjadi jiwa-jiwa terhormat. Tidak ada yang tidak berhasil. Sebab didikan yang ditempakan kepada kami adalah didikan yang terbaik. Baik menjadi dokter, pengusaha, Guru, Pengacara, Manajer, dan lain sebagainya. Juga sebagai wakil rakyat yang menerima aspirasi dari seluruh rakyat Indonesia. Semuanya bercita-cita ingin memajukan bangsa dan negara, juga berpegang teguh terhadap ilmu-ilmu agama.
 Tiba-tiba di Senayan tampak begitu sejuk mengingat kenangan demi kenangan yang tidak akan habis jika terus dikisahkan. Kenangan menjadi seorang santri yang tidak akan terlupakan oleh benak. Saat ini, 25 sayap keindahan telah terbang tinggi menjulang. Sesuai dengan keinginan yang dahulu kami impikan. Tepat diatas langit-langit Maryam, do’a dan harap kami terpenuhi. Hingga saat ini, tidak akan kami lupa, bahwa diatas langit Maryam telah menyimpan begitu banyak keinginan yang kami langitkan.
 Maryam. Asrama kami tercinta, hingga saat ini menjadi asrama putriku tersayang tentunya. Diatas langit Maryam terdapat do’a-do’a terbaik yang dilangitkan oleh putriku. Tersimpan begitu banyak cita yang Ia usahakan. Tentunya dengan keadaan yang berbeda. Asrama Maryam saat ini menjadi Asrama yang berdiri megah, dan pesantrenku saat ini menjadi pesantren yang kokoh. Asrama Maryam saat ini menjadi Asrama yang nyaman, dan pesantrenku saat ini menjadi pesantren terdepan. Asrama Maryam saat ini menjadi asrama yang indah, dan pesantrenku saat ini menjadi pesantren yang tak tertandingi. Muhammadiyah Boarding School Pleret, tempat naung terbaik bagiku juga putriku. Tempat yang akan selalu mencari dan mencari inspirasi untuk kemajuan bersama.
 Dan saat ini keberhasilanku sebagai anggota dewan merupakan didikan dan tempaan dari sebuah tempat bernama pesantren. Do’a-do'a yang kuucapkan terkabulkan diatas langit Maryam. Sungguh jiwa-jiwa terhormat penuh keikhlasan hasil didikan penuh ketulusan. Terlahir dari sebuah rahim bernama pesantren.
Belenggu suci diatas langit Maryam.

Komentar

  1. Kepada dunia aku bersemayam, kelada angin aku bermelodi, kepada kau panutanku :v gilaa. Keren nan :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. kepada langit, bumi berdiskusi, kepada pohon, ranting bersemayam, kepada Arif, nanda mengucapkan terimakasih, bosqueee ;v

      Hapus
  2. Start cant shine without darkness
    Always be the best arumm👏

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih Sultan sudah mampir di blogku yang alay dan meninggalkan komentar yang berkesan

      Hapus
  3. Ada beberapa hal yang mesti diperhatikan. Salah satunya, penggunaan sistematika bahasa Indonesia yang baik dan benar. Seperti, penggunaan penutup kalimat, agak sedikit tidak konsisten. Kalau memang menggunakan kata ganti "ia", maka jangan dibuat "dia", konsisten saja dengan "ia". Selanjutnya, penyambungan di+kk, seperti dijelaskan. Tapi, kalau di+KB, itu harus dipisah, contoh di bawah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih kakak atas saran dan masukannya yang membangun. Akan saya jadikan pelajaran yang berarti untuk peningkatan karya saya selanjutnya.

      Hapus
  4. Balasan
    1. Terimakasih kakak, saya akan terus belajar dan belajar

      Hapus
  5. Bagusss dek, salah satu cerpen yg berkesannn

    BalasHapus
    Balasan
    1. siapp Kakak, terimakasih telah meninggalkan komentar yang berkesan

      Hapus
  6. Semangat Nanda untuk terus berkarya! Jangan lupa mampir juga ke blog ku cipratanhujan.blogspot.com hehe semoga sukses yaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. wahhh siap kak Alvitraaa... nanti langsung ku bertamu pada blogmu. terimakasih sudah mampir ke blogku yang alay ini dan terimakasih telah meninggalkan komentar yang berkesan

      Hapus
  7. Balasan
    1. Terimakasih kak Nisa atas komentarnya yang berkesan

      Hapus
  8. Balasan
    1. iya, terimakasih telah atas komentarnya yang berkesan

      Hapus
  9. Cerita yang enak dibaca, sampai-sampai membawa saya pada kekaguman. Keren, Nanda! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih Wahid atas komentarnya yang berkesan. saya lebih kagum lho dengan prestasi-prestasi kamu dan karakter kamu yang membangun. Semangat!

      Hapus
  10. 25 kepak syap. Pasti angka ini dipilih dan diulang karena memiliki makna tersendiri bagi si penulis. Sya jadi penasaran

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sangat berarti, karena ini merupakan jumlah generasi awal berdirinya Muhammadiyah Boarding School Pleret, yang tidak gentar oleh badai, yang tidak mundur sebab tempaan yang susul menyusul tak berkesudahan. 25 orang yang menjadi jiwa-jiwa terhormat hasil didikan ketulusan.

      Hapus
  11. ~ Life begins at the end of your comfort zone ~
    - Semangat... dan tingkatkan lagi -

    BalasHapus
  12. Keren banget ceritanya dek 😍😍 barakallah ya😀😀

    BalasHapus
  13. Balasan
    1. Terimakasih telah meninggalkan komentar yang berkesan

      Hapus
  14. Your idea so brilliant nan. Teruslah berkarya

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih kakak atas komentarnya yang berkesan

      Hapus
  15. Ceritanya bagus bangeeeeeet,,,terinspirasi jadi pingin nyantri lagi saya.
    Semangat yaa nak,,maju teriuus,,,!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih banyak hehehe, monggo nyantri lagi, kan tidak ada namanya mantan santri. sebagai seorang santri, kebanggannya dihati

      Hapus
  16. Keren nanda...semangat menulis!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, terimakasih atas komentarnya yang berkesan

      Hapus
  17. Keren nduk....terus menulis ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih Ustadzah Lokana atas kesempatannya mampir di blog saya yang alay, dan terimakasih atas komentarnya yang berkesan

      Hapus
  18. Doa kami untuk kalian santri santriku... Semoga Allah selalu memberikan keberkahan dari setiap lelahnya erjuangan kalian di pesantren.. Love you all nak anak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiin Amiin Ya Robbal Alamiin, semoga Allah senantiasa memberkahi langkah kita sekalian untuk menuju ridho yang Kuasa. Allah maha melihat dan maha mengetahui bahwasannya tidak ada perjuangan yang luput dari awasannya, dan sungguh Allah sangat dekat, kelak mengabulkan do'a-do'a terbaik Ustad/ah, saya, dan teman-teman semua dalam langkah pengabdian kita di Pesantren.

      Hapus
  19. Seperti senja yang nampak merona, tulisan-tulisan karyamu pun sangatlah menggetarkan jiwa.

    Semangat menulis, Kak Nanda!

    Do the best and be the best :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. kepada senja kusampaikan berita, bahwa jiwa ini lebih menghangat mendengar pujian-pujian indah yang kau sampaikan... terimakasih Ulfaahhh

      Hapus
  20. MasyaAllah keren dek, semangat!! semoga Allah memberkahi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih mbak.. .Amiin Amiin Ya Robbal Alaminn

      Hapus
  21. semangat smg mnjdi penulis yang hebat ....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiin terimakasih banyak ya, semoga dkabulkan Allah

      Hapus
  22. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  23. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  24. Sangat keren dan menginspirasi, apalagi yg membaca sama2 santri, jadi yg membaca ikut merasakan gregetnya jadi santri😁 top lah tingkatkan👌

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih Ridho, sebagai sesama santri kita tahu lah suka dukanya di penjara suci, kehidupan kita yang penuh inspirasi, maka dari itu marilah kita berbagi agar yang lain juga bangga dan tertarik menyandang nama santri.

      Hapus

Posting Komentar